Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Calon Polwan yang Memiliki Satu Tangan Ramai Dibahas Warganet, Inilah Sosoknya

Alifah Nurlias Tanti • Kamis, 26 September 2024 | 00:03 WIB
Calon polwan yang memiliki satu tangan viral di media sosial.
Calon polwan yang memiliki satu tangan viral di media sosial.

RADARTUBAN - Nur Fatia Azzahra, calon Polwan disabilitas curi perhatian warganet saat mengikuti pendidikan pembentukan Bintara Polri tahun anggaran 2024.

Nur Fatia menjadi viral setelah video dirinya saat mengikuti pendidikan Sepolwan diunggah sejumlah akun media sosilal Instagram sejak Jumat (20/9).

Dalam sebuah unggahan akun @galery_news Nur Fatia nampak serius mengikuti kegiatan walaupun dengan keterbatasan itu.

Calon polwan disabilitas itu diketahui memiliki satu tangan yang tidak sempurna. Nur Fatia memiliki tangan kanan dengan sebatas pergelangan tanpa telapak tangan.

walaupun dengan keterbatasan tersebut, Nur Fatia Tetap semangat saat menenteng senjata laras panjang.

Nur Fatia ini berasal dari Bangka Belitung, Dia juga mengikuti Sepolwan seusai dinyatakan lolos dan memenuhi syarat pendidikan pembentukan Bintara Polri jalur disabilitas tahun anggaran 2024.

Ayah Nur Fatia, menceritakan bagaimana kondisi yang menimpa putrinya sudah sejak dari kecil.

"(Dia) merupakan anak tertua dari dua bersaudara. Nur Fatia ini dia dilahirkan tanpa tangan kanan," katanya.

Ayah dari Nur Fatia juga mengungkapakan, walaupun Nur Fatia memiliki keterbatasan, tetapi anaknya tersebut merupakan anak yang mandiri, sejak kecil Nur Fatia mampu menjalankan aktivitas sehari-hari dan sering membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

"Dia tidak pernah merepotkan kami sebagai orang tua, dia mandiri,” kata ayah Nur Fatia.

Nur Fatia tergolong anak yang pintar, ia selalu masuk rangking 10 besar dari SD hingga tamat SMA.Perempuan berjilbab ini juga melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.

Di bangku perkuliahan dia menjadi lulusan termuda jurusan Psikologi Universitas Islam Indonesia pada tahun 2023, dalam waktu 3 tahun 8 bulan, dengan predikat Cumlaude.

Walaupun begitu Nur Fatia mengaku pernah menjadi korban bullying sejak kecil, lantaran dianggap berbeda oleh teman-temanya.

“Waktu SD saya pernah mengalami bullying dikarenakan saya tidak bisa olahraga voli, bully-an verbal. Saya cuma bisa nangis dan kasih tahu orang tua kalau saya itu kenapa di-bully sama teman,” kata dia.

Beruntung Nur Fatia memiliki orang tua yang selalu memberikan dukungan. Ayah dan ibunya menjadi support system dengan mendorongnya untuk tidak minder serta malu.

“Ayah dan ibu bilang kalau saya itu istimewa, tidak boleh minder dan malu, dan harus membuktikan kalau bisa,” sambung dia.

Nur Fatia menyampaikan sang ayah kerap mengajaknya ke luar rumah untuk sekadar bermain, hingga mengajarkan soal kemandirian. Ayahnya juga mendidik anaknya untuk menjadi seorang pemberani. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#polwan #polisi wanita #disabilitas