Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Viral Aksi Gus Miftah Diduga Toyor Kepala Istri, Begini Adab Bercanda dalam Islam Sebenarnya

Sugiati. • Selasa, 8 Oktober 2024 | 21:10 WIB
Gus Miftah yang belakangan kembali ramai diperbincangkan.
Gus Miftah yang belakangan kembali ramai diperbincangkan.

RADARTUBAN - Gus Miftah viral setelah aksi gemasnya kepada sang istri hingga diduga toyor kepala sang istri mendapatkan banyak kecaman dari warganet.

Video tersebut memperlihatkan Gus Miftah dan istri yang berada dalam sebuah acara, duduk berdampingan.

Menanggapi hal tersebut, Gus Miftah mengaku hanya bercanda dengan sang istri, dirinya juga mengaku terbiasa melakukan hal serupa di rumah ketika berdua.

"Itu bahasa gemes saya dengan istri, dan istri saya ketika saya melakukan itu menikmati, " ujar Gus Miftah dikutip dari kanal YouTube SelebTubeTV (06/10).

Meskipun begitu, warganet menganggap bahwa candaan yang dilakukan Gus Miftah di depan umum tersebut terlalu berlebihan. Hal ini yang kemudian menjadi kontradiktif.

Lantas, bagaimana sebenarnya pandangan IsIam tentang adab-adab dalam bercanda? Ada sekitar delapan adab bercanda dalam Islam yang dirangkum dari Liputan6.com.

1. Tidak boleh terlalu melewati batas

Bercanda merupakan bagian kehidupan seseorang untuk dapat lebih rilex dalam menghadapi kehidupan dunia. Meskipun begitu, bercanda berlebihan juga tidaklah baik, karena dapat berkemungkinan menurunkan wibawa seseorang.

2. Tidak diperkenankan bercanda dalam perkara serius

Hendaknya dalam bercanda harus dapat menempatkan diri, di mana waktunya bercanda dan di mana waktunya serius. Jangan sampai ketika serius dibuat bercanda, begitupun sebaliknya.

3. Meluruskan tujuan

Hakikat bercanda adalah untuk mengurangi rasa bosan, lesu serta jenuh dalam sebuah suasana tertentu. Hendaknya tujuan yang dicapai dalam bercanda tidak keluar dari hal tersebut.

4. Tidak diperkenankan bercanda dengan seseorang yang tidak senang bercanda

Pentingnya untuk melihat dengan siapa kita akan bercanda, jangan sampai seseorang yang diajak bercanda tidak suka bercanda. Hal ini akan menimbulkan dampak buruk, misalnya ketersinggungan.

5. Hindari kebohongan dalam candaan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meski dia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud).

6. Hindari melecehkan kelompok tertentu

Hendaknya dalam bercanda harus memerhatikan kondisi, jangan sampai menyinggung kelompok-kelompok tertentu, baik sengaja maupun tidak sengaja.

7. Hindari bercanda dengan aksi dan kata-kata yang buruk

Allah telah berfirman dalam surah Al-Isra’ ayat 53: “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.”

8. Dilarang melecehkan syiar-syiar agama dalam candaan

Pentingnya hati-hati dalam bercanda agar tidak terkesan melecehkan, terlebih pada syiar-syiar agama seperti simbol agama, ayat-ayat Al-Qur'an dan syiar-syiarnya.

Pada dasarnya, dalam setiap tindakan perlu dipikirkan matang-matang serta dapat mempertimbangkan sebab dan akibatnya, terlebih ketika di depan umum. Boleh jadi maksud dan tujuan kita tidak sama dengan pandangan orang lain, hal ini akan menimbulkan fitnah. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Gus Miftah toyor istri #serius #bercanda #kebohongan