Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Inilah Weton Wasit Pertandingan Indonesia vs Bahrain, Harusnya Berwatak Bijaksana dan Tegas

Ahmad Bayhaqi • Jumat, 11 Oktober 2024 | 15:51 WIB

Wasit Ahmed AL Kaf yang pimping pertandingan Indonesia - Bahrain.
Wasit Ahmed AL Kaf yang pimping pertandingan Indonesia - Bahrain.

RADARTUBAN - Dalam pertandingan sepak bola, terutama laga internasional seperti Indonesia vs Bahrain, perhatian sering kali tertuju pada wasit yang memimpin jalannya permainan.

Salah satu wasit yang memimpin laga tersebut adalah Ahmed Al Kaf, yang diketahui lahir pada 6 Maret 1983.

Berdasarkan penanggalan Jawa, wasit berkepala gundur itu memiliki weton Minggu Legi.

Pertanyaan menarik muncul, apakah keyakinan tradisional Jawa seperti weton dan santet dapat mempengaruhi seseorang yang tidak berasal dari budaya Jawa?

Artikel ini akan membahas secara mendalam hubungan antara weton, santet, dan relevansinya pada figur non-Jawa seperti wasit Ahmed Al Kaf dalam konteks laga sepak bola.

Weton dan Kepercayaan dalam Budaya Jawa

Dalam budaya Jawa, weton merupakan perpaduan antara hari lahir dan pasaran yang dipercaya dapat mempengaruhi kepribadian, nasib, dan bahkan kerentanan seseorang terhadap kekuatan mistik.

Minggu Legi , weton dari wasit Ahmed Alkaf, dikenal sebagai weton dengan neptu 10 (Minggu = 5 dan Legi = 5).

Orang yang lahir pada weton ini biasanya dianggap memiliki karakter yang kuat, tegas, bijaksana, dan memiliki daya tarik spiritual tersendiri.

Weton ini sering dikaitkan dengan keberuntungan dalam kehidupan, tetapi ada juga kepercayaan bahwa orang dengan weton Minggu Legi rentan terhadap gangguan mistik tertentu, terutama dalam situasi yang melibatkan konflik energi supranatural.

Santet: Mitos atau Realitas?

Pascar pertandingan Timnas Indonesia vs Bahrain, warganet tak henti-hentinya menghujat sang wasit hingga memicu akun Instagram Ahmed Al Kaf hilang. 

Tak hanya hujatan, beberapa warganet sempat melontarkarkan ancaman bakal mengirim santet kepada sang wasit.

Apa sebenarnya santet itu?

Santet adalah praktik mistik dalam budaya Jawa yang dipercaya mampu mengirimkan energi negatif atau pengaruh buruk kepada orang lain.

Santet sering kali melibatkan mantra, medium fisik, atau energi spiritual yang ditujukan kepada target. Dalam kepercayaan Jawa, weton seseorang sering digunakan untuk menentukan waktu yang tepat dalam melancarkan serangan mistik seperti santet.

Namun, pertanyaannya adalah: apakah santet hanya berfungsi efektif pada orang yang berada dalam budaya Jawa atau percaya pada kekuatan mistis ini?

Dalam kasus Ahmed Alkaf, seorang wasit asal Timur Tengah yang mungkin tidak memiliki keterikatan langsung dengan kepercayaan mistik Jawa, kita bisa mempertanyakan efektivitas dari santet atau kepercayaan semacamnya.

Ahmed Alkaf dan Weton Minggu Legi

Jika kita merujuk pada tanggal lahir Masehi Ahmed Alkaf, yaitu 6 Maret 1983 , dan menghitungnya dalam kalender Jawa, wetonnya adalah Minggu Legi.

Berdasarkan kepercayaan Jawa, seseorang yang lahir pada weton ini memiliki kekuatan spiritual yang kuat, tetapi juga bisa rentan terhadap gangguan dari energi negatif jika berada dalam lingkungan yang penuh konflik mistik.

Dalam konteks pertandingan Indonesia vs Bahrain , ada spekulasi tentang pengaruh mistik yang mungkin berperan dalam kinerja wasit.

Meskipun tidak ada bukti konkret bahwa santet digunakan, adanya keyakinan tradisional seperti ini memunculkan pertanyaan menarik tentang pengaruh mistik terhadap individu di luar budaya Jawa.

Apakah Santet Berpengaruh pada Orang di Luar Jawa?

Satu hal yang menarik untuk dibahas adalah apakah santet dapat efektif pada seseorang yang tidak memiliki keterkaitan budaya dengan Jawa, seperti halnya Ahmed Al Kaf .

Dalam banyak kasus, kepercayaan terhadap santet atau praktik mistik lainnya sangat bergantung pada keyakinan individu. Jika seseorang tidak mempercayai santet atau tidak terpapar pada budaya mistik Jawa, pengaruhnya mungkin tidak akan sama dengan seseorang yang percaya penuh pada kekuatan-kekuatan tersebut.

Santet dalam Perspektif Psikologis

Secara psikologis, ada teori yang menyatakan bahwa kekuatan santet atau praktik mistik lainnya bisa berfungsi karena efek placebo atau nocebo—di mana seseorang menjadi lebih rentan terhadap energi negatif jika mereka percaya bahwa mereka bisa dipengaruhi olehnya.

Namun, jika seseorang seperti Ahmed Alkaf tidak percaya atau tidak memiliki konteks budaya untuk mempercayai praktik seperti santet, maka pengaruhnya akan sangat minimal, atau bahkan tidak ada.

 

Globalisasi dan Relevansi Praktik Mistik

Dalam dunia yang semakin global, kepercayaan seperti santet semakin banyak diperdebatkan di berbagai tempat. Di era internet dan media sosial, mitos dan kepercayaan tradisional dapat menyebar jauh melampaui batas geografis.

Namun, apakah kepercayaan ini benar-benar memiliki efek yang nyata di luar konteks budayanya masih menjadi pertanyaan yang perlu dijawab. Santet , yang mungkin masih sangat kuat dalam kepercayaan masyarakat Jawa, mungkin tidak relevan untuk seseorang dari budaya yang sangat berbeda, seperti Timur Tengah.

Kesimpulan

Dalam pertandingan Indonesia vs Bahrain, faktor mistik seperti weton dan santet mungkin menarik untuk dipertimbangkan sebagai bagian dari budaya Jawa yang kaya, tetapi relevansinya terhadap wasit seperti Ahmed Al Kaf yang berasal dari luar budaya tersebut tampaknya sangat terbatas.

Meskipun wetonnya adalah Minggu Legi , yang memiliki makna penting dalam kepercayaan Jawa, pengaruh santet atau kekuatan mistik terhadapnya masih menjadi spekulasi yang lebih bersifat budaya daripada sesuatu yang nyata. Pada akhirnya, keyakinan individu dan keterkaitan budaya memainkan peran penting dalam apakah praktik mistik seperti ini benar-benar dapat berpengaruh. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Ahmed Al Kaf #keyakinan #bahrain #weton #Minggu Legi #jawa #budaya #timnas indonesia