Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

BMKG Ungkap Penyebab Panas Terik yang Tak Kunjung Usai di Indonesia

Shafa Dina Hayuning Mentari • Kamis, 31 Oktober 2024 | 19:05 WIB

 

Photo
Photo

RADARTUBAN - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan penyebab suhu panas terik yang masih melanda Indonesia.

Hasil pantauan BMKG dari Stasiun Meteorologi Gawayantana, NTT menunjukkan suhu maksimum harian Indonesia mencapai 38,3 derajat celcius sejak Senin (28/10) hingga Selasa (29/10).

Begitu pula dengan hasil BMKG di Stasiun Meteorologi Maritim Panjang, Lampung yang melaporkan suhu paling rendah berada di angka 34,4 derajat celcius.

Akibat panas terik yang memanggang ini, BMKG mengeluarkan peringatan agar masyarakat mewaspadai dampak yang dapat terjadi.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, mengatakan jika penyebab suhu panas yang terjadi di beberapa daerah ini disebabkan karena gerak semu matahari.

“Panas yang terjadi hanya siklus panas terik harian, karena ada pergerakan semu matahari. Saat ini di bulan Oktober posisi matahari ada di 8 atau 9 derajat Lintang Selatan,” tutur Guswanto pada Selasa (29/10).

Sehingga, kata Guswanto, hal tersebutlah yang menyebabkan wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menerima sinar matahari langsung.

Dia juga menjelaskan jika saat ini wilayah selatan Indonesia masih terjadi musim kemarau dan sedang beralih menuju musim hujan.

Menurut Guswanto, pergantian musim tersebut menyebabkan tiupan awan di wilayah selatan masih dipengaruhi oleh angin Muson Timur, hal ini mengakibatkan masih sedikitnya tutupan awan.

Kepala Pusat Meterorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, juga turut buka suara mengenai suhi panas terik ini. Dia menyebut kondisi ini masih akan berlanjut.

“Kondisi suhu panas diprediksi masih akan bertahan di wilayah Jawa hingga NTT selama beberapa hari ke depan. Kondisi tersebut terus dipantau oleh BMKG karena perubahan cuaca sangat dinamis dan tergantung pada dinamika cuaca regional dan pola pergerakan atmosfer secara keseluruhan yang sedang aktif di wilayah Indonesia,” ungkap Andri.

BMKG menjelaskan bahwa panas terik yang memanggang ini merupakan salah satu ciri – ciri masa peralihan musim, yaitu hujan yang terjadi di sore hingga menjelang malam didahului dengan udara panas terik pada pagi dan siang hari.

BMKG juga memberikan tips untuk mengurangi dampak yang dapat terjadi akibat suhu panas ini. Yakni dengan mengonsumsi cukup air untuk menghindari dehidrasi, terutama saat banyak melakukan kegiatan di luar ruangan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#BMKG #ntt #panas terik