Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Setahun, 400 Alfamart Terpaksa Tutup Karena Merugi, Begini Penjelasannya

Alifah Nurlias Tanti • Senin, 16 Desember 2024 | 02:23 WIB

 

Ilustrasi Alfamart.
Ilustrasi Alfamart.

RADARTUBAN - Bisnis waralaba yang disebut-sebut menjanjikan ternyata juga tidak seindah yang dibayangkan. Alfamat melaporkan tahun ini menutup 400 gerainya karena merugi dan tidak bisa bertahan. 

Solihin, perwakilan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart), mengungkapkan bahwa ratusan gerai Alfamart telah tutup sepanjang tahun ini.

Meskipun demikian, perusahaan tetap melanjutkan ekspansi di beberapa daerah. Penutupan gerai-gerai tersebut disebabkan oleh kerugian yang dialami, salah satunya akibat tingginya biaya sewa yang tidak sebanding dengan melemahnya penjualan.

"Sebanyak 300-400 toko kami tutup tahun ini. Alasannya? Ya, kalau untung tentu kami akan tetap buka," ujar Solihin, Sabtu (14/12).

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (DPP Aprindo) itu menyatakan bahwa penutupan gerai adalah keputusan yang sulit. Namun, langkah tersebut harus diambil karena tidak ada pilihan lain.

Di sisi lain, Solihin menjelaskan bahwa Alfamart tetap melanjutkan pembukaan gerai di sejumlah wilayah. Dia mengklaim jumlah gerai baru yang dibuka tahun ini melebihi jumlah gerai yang ditutup.

"Artinya, diharapkan ada yang tutup dan ada yang buka, sehingga bisa saling mendukung," ujarnya.

Solihin juga mengatakan bahwa target pembukaan 800 gerai baru tahun ini telah terlampaui, yang dilakukan untuk menutup selisih jumlah gerai yang ditutup.

Laba atau kerugian Alfamart tergantung pada berbagai faktor yang memengaruhi kinerja keuangannya, seperti penjualan, biaya operasional, dan strategi ekspansi.

Alfamart, melalui induk perusahaannya PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk, berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 2,39 triliun hingga kuartal III 2024, meningkat 9,52% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Namun, perusahaan juga menghadapi tantangan, seperti kenaikan biaya operasional dan penutupan sejumlah gerai karena kinerja yang tidak menguntungkan di beberapa lokasi.

Untuk mengatasi potensi kerugian di beberapa gerai, Alfamart mengimplementasikan langkah-langkah strategis, seperti membuka lebih banyak gerai di lokasi yang lebih potensial, mengoptimalkan biaya operasional, dan meluncurkan layanan baru untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Selain itu, mereka terus memperbaiki rantai pasokan dan pengalaman pelanggan untuk menjaga pertumbuhan margin keuntungan.

Solihin mengakui bahwa penutupan gerai adalah langkah berat, tetapi perlu untuk mengurangi kerugian akibat biaya operasional yang tidak sebanding dengan penjualan. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#bisnis waralaba #tutup #gerai #alfamart