Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Fenomena Gunung Bertopi, Benarkah Tak Seindah Saat Dilihat dari Jarak Jauh?

Nadia Nafifin • Selasa, 17 Desember 2024 | 00:35 WIB

 

Fenomena Gunung Bertopi
Fenomena Gunung Bertopi

RADARTUBAN - Fenomena gunung bertopi menjadi pemandangan langit yang menarik dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

Gunung bertopi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan fenomena alam di mana gumpalan awan tampak menggantung di puncak gunung. Awan ini biasanya berbentuk pipih dan melebar, menciptakan ilusi seperti topi yang menutupi puncak gunung.

Dari kejauhan, fenomena gunung bertopi tampak memukau. Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk mengabadikannya, mengingat keindahannya yang dianggap langka dan jarang terjadi.

Awan bertopi adalah istilah yang merujuk pada fenomena alam di mana awan menggumpal dan membentuk pola menyerupai topi besar. Awan ini biasanya tampak melayang tepat di atas puncak sebuah gunung.

Fenomena gunung bertopi atau awan topi memiliki istilah ilmiah yang menggambarkan proses terbentuknya. Dalam buku Pemanasan Global dan Perubahan Iklim karya Bayu Sapta Hari, oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan mengenai formasi awan yang sering kali melingkari puncak gunung tertentu.

Fenomena topi awan ini secara ilmiah dikenal dengan nama awan lenticular atau lentikular. Awan lentikular memiliki ciri khas yang membedakannya dari jenis awan lainnya, yaitu bentuknya yang datar dan melengkung, sering kali menyerupai topi yang melingkari puncak gunung.

Ciri-ciri awan lentikular antara lain adalah posisinya yang cenderung tidak bergerak, berbeda dengan awan lainnya yang biasanya bergerak seiring dengan angin. Selain itu, awan lentikular juga dikenal memiliki bentuk yang padat dan sering kali tampak melengkung seperti topi di atas puncak gunung.

Umumnya memiliki tampilan yang lebih halus dan bergaris, bukan seperti UFO pada umumnya

Awan lentikular juga dikenal sebagai awan orografis, yang merupakan istilah keren untuk 'gunung'. Awan ini juga disebut sebagai lennies dalam komunitas cuaca.

Proses terjadinya fenomena gunung bertopi yang berupa awan lentikular dimulai ketika udara bergerak naik dan melewati puncak gunung.

Menurut buku Pemanasan Global dan Perubahan Iklim, ketika udara yang lembab terangkat, dia akan mendingin dan mengembun, membentuk awan lentikular di sekitar puncak gunung.

Awan ini tetap berada di tempatnya karena aliran udara yang terus-menerus mengalir melalui gunung, menciptakan pola yang khas.

Selanjutnya, udara yang terangkat akan mengalami pendinginan yang cukup signifikan, sehingga terjadi proses kondensasi. Proses ini memicu pembentukan awan lentikular, yang biasanya muncul di atas beberapa puncak gunung.

Kondensasi terjadi karena udara yang lembab mendingin saat naik, menyebabkan uap airnya terkumpul dan membentuk awan dengan bentuk khas.

Proses terjadinya awan lentikular terbentuk ketika suatu halangan menghalangi aliran udara normal di atmosfer (biasanya pegunungan).

Pegunungan akan mengganggu aliran udara, yang menciptakan turbulensi dan menyebabkan udara naik dan turun dalam pola seperti gelombang di sisi bawah angin gunung.

Saat udara ini naik dan bertemu dengan lapisan udara lembap, udara tersebut mengembun dan membentuk awan. Karena awan lentikular merupakan indikasi kondisi berangin, pilot pesawat tahu untuk menghindari area tempat terbentuknya awan tersebut, karena dapat menyebabkan perjalanan yang bergelombang.

Selanjutnya, ketika angin bertiup secara mendatar, gaya yang dihasilkan akan membentuk butiran-butiran udara kecil yang menyebabkan terbentuknya awan lentikular di sekitar puncak gunung.

Kondisi ini membuat awan lentikular memiliki bentuk yang cenderung mendatar dan melebar, melingkari puncak gunung dengan pola yang khas.

Selain mengganggu penerbangan pesawat, awan bertopi juga membahayakan pendaki yang berada di puncak gunung. Awan ini menandakan adanya angin kencang yang dapat berbahaya bagi pesawat.

Selain itu, awan tersebut juga membawa uap air yang bisa menyebabkan hujan deras di puncak, sehingga pendaki perlu waspada. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#awan #BMKG #gunung bertopi #puncak gunung #langit