RADARTUBAN - Memperingati 20 tahun bencana gempa dan tsunami Aceh. Ribuan warga Banda Aceh memenuhi Masjid Baiturrahman pada Kamis (26/12), untuk mengikuti zikir dan doa bersama.
Peringatan ini diawali dengan momen mengheningkan cipta selama tiga menit, diiringi suara sirene yang menggema di seluruh penjuru kota pada pukul 07.58 WIB, waktu yang sama saat bencana terjadi dua dekade silam.
Penjabat Gubernur Aceh, Safrizal ZA, dalam sambutannya mengatakan bahwa tema tahun ini adalah Beranjak dari Masa Lalu dan Menuju Masa Depan Aceh Bersyariat.
“Tragedi ini adalah pengingat untuk mempererat hubungan dengan Tuhan dan menumbuhkan solidaritas antarsesama manusia,” ujarnya.
Kisah Penyintas yang Menyentuh Hati
Sirene peringatan memunculkan kembali kenangan mendalam bagi para penyintas. Nurhasanah, 65, warga Ulee Lheu, mengatakan bahwa dirinya masih merasakan trauma yang membekas.
"Tidak mungkin bisa lupa, tidak mungkin," tuturnya lirih.
Sementara itu, Mursyr, 55, seorang penyintas dari Lamteumen Barat, hadir menggunakan sepeda yang selamat dari tsunami 20 tahun lalu. Kisah inspiratif lainnya datang dari Delisa, yang kehilangan salah satu kakinya akibat tsunami.
Sosoknya menjadi teladan setelah kisah hidupnya diangkat dalam film "Hafalan Shalat Delisa".
“Saya bersyukur masih diberi kekuatan untuk berdiri hingga saat ini,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Tausiah dari Aa Gym dan Momen Refleksi
Acara ini ditutup dengan tausiah dari penceramah Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Dia mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan sebagai bekal menghadapi masa depan.
Bencana tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar dalam sejarah. Lebih dari 230 ribu jiwa di 14 negara kehilangan nyawa, dengan Indonesia sebagai negara terdampak terparah. Sekitar 160 ribu korban berasal dari Aceh.
Sirene peringatan yang berbunyi pagi itu juga menjadi tanda di mulainya berbagai kegiatan mengenang bencana di Aceh. Banyak keluarga korban dan penyintas mengunjungi pemakaman massal, membawa doa, dan mengenang kehilangan besar yang mereka alami.
Selain di Aceh, sejumlah negara lain yang turut terdampak tsunami 2004 juga mengadakan acara peringatan. Di Sri Lanka, upacara keagamaan dilakukan untuk mengenang 35 ribu korban jiwa. Sementara itu, di Thailand, peringatan diisi dengan pameran kesiapsiagaan bencana dan dokumentasi kejadian.
Bencana yang terjadi akibat gempa berkekuatan 9,1 skala Richter ini, tidak hanya memporakporandakan kawasan pesisir tetapi juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana di masa depan.
“Rasanya seperti kemarin,” ujar Hasnawati,54, salah satu penyintas, saat mengenang Minggu pagi kelabu itu. Tragedi ini akan selalu menjadi bagian dari sejarah dan pelajaran besar bagi generasi mendatang.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni