RADARTUBAN - Riyadi, 60, seorang nelayan asal Kecamatan Panggungrejo, meregang nyawa usai tersambar petir saat melaut di perairan Katingan, Kabupaten Sidoarjo.
Ketika itu, Riyadi bersama satu nakhoda dan 19 Anak Buah Kapal (ABK) berlayar menggunakan KM Pandawa Lima. Awalnya, cuaca tenang berubah drastis menjadi badai disertai petir yang mengancam.
Sekitar pukul 17.00 WIB, mereka sudah berada di perairan Katingan. Ketika langit semakin gelap, dua kali kilatan petir menyambar sekitar kapal.
Riyadi yang saat itu berada di anjungan kapal bersama empat ABK lainnya terkena sambaran petir ketiga, yang langsung menghantam tubuhnya.
Dirinya seketika terlempar dan jatuh ke dek kapal. Nakhoda segera mematikan mesin dan memeriksa keadaannya, tetapi Riyadi telah meninggal dunia.
Luka di bagian belakang kepalanya diduga akibat benturan dengan dek, meski tubuhnya tidak menunjukkan tanda luka bakar akibat petir.
Situasi di kapal berubah panik. Tanpa menunda waktu, mereka langsung berbalik arah menuju Pelabuhan Pasuruan sembari menghubungi Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kota Pasuruan untuk melaporkan kejadian tersebut.
Setibanya di pelabuhan, jenazah Riyadi segera dibawa ke RSUD dr. R. Soedarsono untuk divisum. Namun, pihak keluarga menolak dilakukannya otopsi dan memilih segera memakamkan almarhum.
"Keluarga menganggap ini sebagai musibah dan menerima kepergian korban dengan lapang dada," ujar Kasi Humas Polres Pasuruan Kota, Aipda Junaidi, dikutip Senin (24/2).
Junaidi juga mengingatkan bahwa perairan Katingan memang dikenal sebagai area rawan petir saat musim penghujan.
Insiden yang terjadi pada Sabtu (22/2) sore itu seakan sebagai peringatan serius bagi nelayan untuk lebih berhati-hati, terutama saat melaut di tengah cuaca ekstrem. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama