Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Setelah Melemah Selama Sepekan, Rupiah Menguat Karena Aksi Buy on Dip

M Robit Bilhaq • Senin, 3 Maret 2025 | 17:55 WIB
Ilustrasi dollar Amerika.
Ilustrasi dollar Amerika.


RADARTUBAN - Pada hari ini, Senin (3,3). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penguatan pada awal pekan ini, seiring dengan aksi (buy on dip) yang dilakukan oleh pelaku pasar.

nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan di Jakarta menguat 56 poin atau 0,34 persen menjadi 16.540 per dolar A) dari sebelumnya 16.596 per dolar AS.

Pengamat pasar uang, Ariston Tjendra, menilai bahwa penguatan rupiah ini terjadi karena harga telah tertekan cukup dalam akibat sentimen negatif dari ancaman kenaikan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap Meksiko, Kanada, dan China.

Menurut Ariston, pagi ini sebagian besar mata uang di negara berkembang (emerging market) menunjukkan tren penguatan terhadap dolar AS, begitu juga dengan indeks saham Asia yang mencatatkan performa positif.

"Di tengah ancaman kebijakan tarif dari Presiden Trump terhadap Meksiko, Kanada, dan China, para pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko. Kemungkinan besar, ini merupakan aksi buy on dip setelah harga sempat mengalami tekanan yang cukup dalam," ujarnya, dikutip dari Antara.

Berdasarkan kondisi yang ada, Ariston memperkirakan rupiah dapat berpotensi menguat menuju Rp16.500 per dolar AS, dengan batas atas (resisten) di kisaran di angka Rp16.600.

 

Meski rupiah kini mengalami penguatan, Ariston menegaskan bahwa sentimen dari kebijakan tarif AS masih menjadi faktor utama yang berpotensi dapat menekan aset berisiko.

"Rencana Trump untuk menaikkan tarif impor belum mereda, sehingga sentimen ini akan terus membayangi pergerakan pasar ke depan," jelasnya.

Lebih lanjut, Ariston juga menjelaskan pelemahan rupiah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir ini disebabkan oleh banyak faktor eksternal, yang sebenarnya sudah diprediksi sejak tahun lalu.

"Sentimen eksternal ini masih berpengaruh terhadap pergerakan pasar saat ini. Selain itu, pasar juga masih skeptis terhadap perkembangan ekonomi dalam negeri. Oleh karena itu, pelemahan rupiah yang terjadi belakangan ini masih tergolong wajar," pungkasnya. (*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#buy on dip #dolar amerika serikat #rupiah menguat