RADARTUBAN - Memasuki bulan ramadan tentunya terdapat tren-tren baru yang semakin bermunculan. Salah satu tren yang viral di media sosial adalah lagu Tob Tobi Tob yang terkenal dengan ritme cepat dan sulit untuk diikuti.
Asal-usul di balik ketenaran lagu ini sekarang, ternyata lagu ini dulunya merupakan sebuah puisi. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan berikut ini.
Dilansir dari postingan akun Instagram @oppal_id pada Minggu (9/3), Ribuan tahun yang lalu, pada masa pemerintahan pendiri Baitul Hikmah, Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur, terdapat keinginan kuat dari sang pemimpin untuk membangun dunia ilmu pengetahuan.
Khalifah Abu Ja'far Al-Manshur dikenal dengan daya ingat yang luar biasa. Ia mampu menghafal setiap puisi dengan sekali dengar saja. Kemampuannya ini banyak menguji para penyair di zaman itu untuk menghasilkan puisi yang menarik baginya.
Syair puisi Saud Safir Al-Bulbul lahir setelah seorang penyair cerdas bernama Al-Ashma'i berinisiatif untuk membuat puisi yang penuh permainan kata, cepat, dan rumit.
Puisi Saud Safir Al-Bulbul yang saat ini dikenal dengan "Tob Tobi Tob" menceritakan suara-suara alam dan musik yang terdengar bersamaan. Seperti suara alami, di mana suara ranting dan burung berkicau membentuk suatu irama yang indah.
Saat puisi ini pertama kali dibacakan pada saat itu, sang Khalifah gagal mengulangi dan menghafalnya untuk pertama kalinya.
Akhirnya, sang Khalifah memberikan hadiah berupa emas kepada Al-Ashma'i. Emas itu sangat berat dan minimal 4 orang yang bisa membawanya.
Lirik Lagu Sawt Safiri Al-Bulbuli
Sawtu shofiiril bulbuliy, hayyaj qalbits tsamili
Al ma-u wazzahru ma'a, ma'zahri nakhthim muqali
Wa anta yaa sayyidal liy, wasayyidiy wa maw laliy
Fakam fakam tayammuniy, 'uzayyilul 'aqiqali
Fathoftahu miw wajnatin, mil latsmi wardil khajali
Fa qala laa laa laa laa, wa qad ghadaa mu harwili
Walkhudu maa lat thoraban, min fa'li haa dzar rajuli
Fa wal walat wa wal walat, waliy waliyya way laliy
Faqultu laa tu walwily, Wa bayyinil lu'lu aliy
Qaa lat lahu hiyna kadza, innah dhawijd bil muqali
Wa fityatin saqaw lani, qahwat kal'usasiliy
Syamamtuhaa bi-anafi azka minal quruquni
Fi wasthi bustanil huliy bilzahri wasururuliy
Wa'ludu dandan dana li, watoblu tob tob tobali
Tob tobi tob tob tobi tob tob tobi tob tob tobaliy
Wasaqfu saq saq saqliy wa raqsu qad tho ba iliy
Syawaa syawaa wa syaa hisyu, 'ala waraq sifarjali
Wagarradil qimriya yishiyhu malalil fii malaliy
Wa law taraaniy raakiban, 'ala himarin azzali
Yimsyii 'ala tsalatsatin kamsyyatil 'aranjiniy
Wannasu tarjim jamaliy, fissuwqi bil qulqulaliy
Walkullu kalka'ka'ika' khalfi waminhu waylaliy
Lakim nasyaytu haa riban, min khasyyatil 'aqaqali
Ila liqaa-i malikin, mu'adzhdzhamim mubajjali...
Ya'muruliy bikhil'atin, khamra-a kaddam damaliy
Ajurru fiiha maa syiyan, mubghadidal lidzdziyali
Anal-adiibul alma'iy, min hayyi' ardhil mushili
Nadzhimtu qith'an zikhrifat, ya'ajuzu 'anhal-adbuli
Aquulu fi mathla-'ihaa shawtu shafiiri bulbuliy. (*)