RADARTUBAN - Maladewa butuh tenaga kerja Indonesia di sektor pariwisata untuk mendukung berbagai proyek pembangunan yang sedang berlangsung di negara kepulauan tersebut.
Informasi ini disampaikan langsung oleh Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Rizki Handayani, dalam konferensi pers UN Tourism Commision for East Asia and the Pacific & UN Tourism Commision for South Asia (CAP-CSA) ke-37 di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Rabu (16/4/2025).
Rizki Handayani menyampaikan bahwa pemerintah Maladewa sangat terbuka untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam hal penyediaan tenaga kerja di bidang pariwisata.
“Dengan Maladewa, mereka sangat ingin kerja sama, pertama di bidang human resource, karena mereka sangat membutuhkan tenaga kerja dari Indonesia,” ucap Rizki.
Pernyataan ini membuka peluang besar bagi lulusan pendidikan pariwisata di Indonesia untuk bekerja di luar negeri, khususnya di sektor yang sedang tumbuh pesat seperti pariwisata Maladewa.
Menurut Rizki, saat ini Maladewa tengah mengembangkan sekitar 100 proyek pariwisata, yang menciptakan permintaan tinggi terhadap tenaga kerja terampil dari luar negeri, termasuk Indonesia.
“Sudah ada enam sekolah Politeknik Pariwisata dengan kelulusan 2000 (orang) per tahunnya. Jadi ini satu potensi untuk bisa dikerjasamakan,” tutrnya.
Hal ini memperlihatkan bahwa kebutuhan SDM pariwisata Indonesia dapat disinergikan dengan pengembangan proyek-proyek pariwisata Maladewa.
Selain tenaga kerja umum di sektor pariwisata, kerja sama juga berpotensi dikembangkan di bidang spa dan wellness yang merupakan salah satu keunggulan Indonesia.
“Kaitannya dengan investasi, kita sampaikan juga terkait dengan spa, wellness, karena kita juga kaya sekali dengan produk wellness. Kita sudah cukup lama dalam ekspor, baik produk maupun tenaga kerja untuk bidang spa dan wellness,” tambah Rizki.
Produk wellness Indonesia seperti spa tradisional, aromaterapi, hingga tenaga terlatih di bidang kesehatan holistik, telah dikenal secara internasional dan berpotensi besar menembus pasar Maladewa.
Dengan dukungan lembaga pendidikan pariwisata yang tersebar di berbagai daerah, tenaga kerja Indonesia memiliki kapasitas untuk bersaing di kancah internasional.
Maladewa butuh tenaga kerja Indonesia bukan hanya karena jumlah, tetapi juga karena keterampilan dan nilai budaya yang dibawa.
Agar kerja sama ini dapat berjalan optimal, dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun sektor swasta, sangat dibutuhkan.
Kolaborasi strategis seperti penyaluran tenaga kerja, pelatihan berbasis standar internasional, serta perlindungan hak-hak pekerja menjadi hal penting yang perlu diperhatikan.
Maladewa butuh tenaga kerja Indonesia di sektor pariwisata sebagai respons terhadap pengembangan proyek pariwisata skala besar di negara tersebut.
Peluang ini dapat dimanfaatkan oleh lulusan pariwisata di Indonesia, terutama di bidang spa dan wellness.
Dengan kerja sama yang baik, Indonesia berpeluang meningkatkan kontribusinya dalam pasar tenaga kerja global, khususnya di industri pariwisata. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni