RADARTUBAN - Fenomena langka wajah bulan tersenyum diprediksi akan menghiasi langit Indonesia dan dunia pada 25 April 2025.
Peristiwa astronomi ini merupakan momen langka yang menarik perhatian para pengamat langit karena menyerupai wajah manusia yang sedang tersenyum di angkasa.
Mengutip dari laman Live Science, wajah bulan tersenyum terbentuk ketika terjadi triple conjunction atau konjungsi tiga benda langit.
Fenomena ini berlangsung saat tiga objek langit tampak sejajar dari perspektif pengamat di Bumi.
Ilusi visual ini menciptakan susunan yang menyerupai wajah dengan dua mata dan satu senyuman.
Dalam konfigurasi tersebut, Venus akan berperan sebagai “mata kanan”, Saturnus sebagai mata kiri, dan bulan sabit tipis membentuk garis senyum.
Venus akan muncul paling terang dan lebih tinggi di langit timur, diikuti oleh Saturnus yang sedikit lebih rendah di barat daya dari Venus, serta bulan sabit yang ramping berada di bawah keduanya dengan kemiringan ke utara.
Fenomena wajah bulan tersenyum ini dapat disaksikan dari hampir seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.
Namun, kondisi langit yang cerah tanpa awan dan minim polusi cahaya menjadi faktor penting untuk mengamati dengan jelas.
Di Indonesia, pengamatan bisa dimulai sejak pukul 05.00 WIB. Puncak keindahan wajah bulan tersenyum diperkirakan terjadi sekitar pukul 05.30 WIB hingga menjelang matahari terbit pada pukul 06.30 WIB, tergantung lokasi pengamat.
Selain tiga objek utama pembentuk wajah, planet Merkurius juga akan muncul di bawah formasi ini.
Namun karena posisinya yang sangat rendah di ufuk timur dan cahayanya tidak seterang Venus, Merkurius mungkin akan sulit terlihat, terutama di daerah dengan cakrawala yang terhalang bangunan atau pepohonan.
Menariknya, fenomena wajah bulan tersenyum ini terjadi hanya beberapa hari setelah puncak hujan meteor Lyrid, yang berlangsung dari malam 21 hingga 22 April.
Menurut laman NASA, Lyrid dapat disaksikan mulai pukul 22.30 hingga 05.00 pagi waktu setempat.
Dengan kondisi langit gelap dan minim cahaya bulan sabit, NASA memperkirakan akan tampak hingga 15 meteor per jam.
Hujan meteor ini berasal dari komet C/1861 G1 Thatcher, yang pertama kali ditemukan oleh AE Thatcher pada 5 April 1861.
Meski pada umumnya hanya menghasilkan 10–20 meteor per jam, hujan meteor Lyrid pernah menunjukkan intensitas yang luar biasa.
Beberapa catatan menunjukkan bahwa sebanyak 100 meteor per jam terlihat di beberapa wilayah seperti Virginia (1803), Yunani (1922), Jepang (1945), dan Amerika Serikat (1982).
Meteor-meteor Lyrid muncul dari arah konstelasi Lyra, dan walau tidak meninggalkan jejak panjang yang bercahaya seperti meteor lainnya, kilatan yang ditimbulkan bisa sangat terang dan memukau. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni