Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Patung Biawak Raksasa di Wonosobo Curi Perhatian, karena Realistis dan Biaya Hanya Puluhan Juta

Dinatur Rohmah Briliana • Kamis, 24 April 2025 | 17:29 WIB
Patung biawak raksasa Wonosobo
Patung biawak raksasa Wonosobo

RADARTUBAN - Sebuah patung biawak raksasa yang berdiri gagah di pinggir jalan nasional Wonosobo–Banjarnegara, tepatnya di Desa Krasak, Kecamatan Selomerto, Wonosobo, Jawa Tengah, sukses menarik perhatian publik dan viral di media sosial.

Banyak warganet mengagumi betapa realistis bentuk patung tersebut, hingga tak sedikit yang menyebutnya mirip seperti biawak sungguhan.

Yang membuat masyarakat makin terkesima, patung ini dikabarkan hanya menelan biaya sekitar Rp50 juta.

Beberapa netizen bahkan menyandingkan patung biawak Wonosobo dengan proyek-proyek serupa yang menelan dana fantastis, menjadikan karya ini sebagai "standar baru" untuk patung publik. Tak terlupakan, nama sang seniman pun ikut jadi sorotan.

Rejo Arianto, seorang perupa lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, yang berada di balik pembuatan patung setinggi tujuh meter ini.

Patung tersebut menggambarkan seekor biawak besar sedang merayap di atas batu, menciptakan kesan dramatis dan hidup.

Rejo mengungkapkan bahwa proses keseluruhan pembangunan patung memakan waktu sekitar satu setengah bulan.

"Khusus untuk pembuatan patungnya sendiri sekitar satu minggu sudah selesai," kata Rejo, dikutip dari Antara.

Mengenai anggaran, Rejo memilih untuk tidak membocorkan secara detail.

Disampaikan bahwa awalnya patung tersebut hanya direncanakan memiliki tinggi tiga meter.

Karena dana yang tersedia mencukupi, ukuran patung dibuat hingga tujuh meter.

"Anggaran, mohon maaf tidak saya sebutkan berhubung dana yang dimandatkan ke saya itu cukup untuk lebih dari tiga meter, saya bangun patung biawak itu menjadi tujuh meter tingginya," jelasnya.

Rejo juga menegaskan bahwa dana proyek ini berasal dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Kabupaten Wonosobo, bukan dari dana desa seperti kabar yang sempat beredar.

"Dana dari kebetulan dari BUMD, bukan dari dana desa seperti yang dikabarkan. Kalau disuruh mengerjakan dari dana desa saya tidak mau, saya insya Allah sadar hukum dan pingin taat hukum," tegas Rejo.

Meski latar belakang pendidikannya adalah seni lukis, Rejo mengaku lebih tertarik menyalurkan kreativitasnya melalui seni tiga dimensi.

Patung biawak ini menjadi salah satu dari tiga patung yang sudah ia hasilkan, selain patung ganesa untuk dekorasi kafe dan homestay, serta patung kuda.

Alasan di balik pemilihan biawak sebagai ikon lokal cukup sederhana namun berakar pada realitas.

Menurut Rejo, satwa tersebut memang sering ditemui di wilayah Wonosobo. Bagi Rejo, patung ini merupakan wujud ekspresi sekaligus persembahan bagi masyarakat.

"Saya cukup mewakili kalau masyarakat senang saya juga ikut senang, tetapi kalau masyarakat dengan karya saya kecewa saya akan sangat kecewa, berhubung ini masyarakat banyak sambutan, banyak dukungan dan banyak kegembiraan saya ikut bahagia sebagai orang yang membuatnya," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Karang Taruna Kecamatan Selomerto, Ahmad Gunawan Wibisono, menyampaikan bahwa ide pembangunan patung ini berawal dari kegiatan Karang Taruna yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.

"Dari situ muncul gagasan untuk membuat patung yang ikonik. Karena dari dulu di sini itu banyak biawak, jadi akhirnya membuat patung biawak," ujar Ahmad Gunawan, Senin (21/4).

Meski sudah viral, patung tersebut ternyata belum rampung sepenuhnya. Ahmad menyebut masih akan ada taman yang dibangun di sekelilingnya.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, juga menyampaikan apresiasinya terhadap karya ini.

"Anggarannya sangat minimalis dan cukup untuk membuat patung yang cukup bernilai. Pemerintah daerah kan nggak punya duit, jadi tidak dianggarkan lewat APBD. Justru kami memantik, menyentuh teman-teman BUMD," ujarnya.

"Tentu bangga dan saya berterima kasih karena melalui Mas Ari ini bisa mewujudkan keinginan masyarakat," pungkasnya mengapresiasi Rejo atas kontribusinya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#realistis #ISI #Patung biawak #wonosobo