RADARTUBAN - Legenda Gunung Lawu, Mbok Yem, tutup usia pada Rabu (23/4), di kediamannya di Dusun Dagung, Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Magetan, Jawa Timur.
Sosok yang dikenal sebagai penjaga warung tertinggi di Pulau Jawa ini meninggal dunia pada usia 82 tahun, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan para pendaki yang pernah singgah di warungnya.
Menjelang akhir hayatnya, Mbok Yem sempat mengungkapkan keinginan untuk berhenti menjaga warung di puncak Gunung Lawu.
Menurut penuturan cucunya, Syaiful Gimbal, Mbok Yem ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama cucunya di rumah.
Dia merasa cucunya sudah besar dan jarang ditunggui, sehingga berencana untuk tidak lagi mengelola warung legendarisnya jika kesehatannya membaik.
"Ya, dia inginnya di rumah menjaga cucunya, karena cucunya jarang ditunggui, tahu-tahu sudah besar. Makanya, Mbok Yem rencananya kalau sudah pulih tidak lagi menunggui warungnya," ujar Syaiful Gimbal.
Keputusan mengenai siapa yang akan melanjutkan pengelolaan warung tersebut akan didiskusikan lebih lanjut setelah keluarga siap secara emosional.
Selain keinginan berhenti menjaga warung, Mbok Yem juga sempat mengajukan permintaan sederhana di hari-hari terakhir hidupnya: ia ingin mandi.
Permintaan ini disampaikan ketika kondisinya sudah sangat lemah dan tidak lagi berselera makan maupun minum.
Setelah mandi, Mbok Yem beristirahat dan tidak bangun lagi hingga menghembuskan napas terakhir.
"Tiga hari ini Mbok Yem tidak mau makan atau minum, kalau minum paling susu, itu pun sudah jarang mau minum. Kemarin sempat minta mandi," ungkap Syaifudin Juhri, salah satu kerabat Mbok Yem.
Sebelum wafat, kondisi kesehatan Mbok Yem memang menurun drastis akibat pneumonia dan luka di kakinya yang sulit sembuh karena kekurangan protein.
Dia sempat dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo selama hampir tiga pekan sebelum akhirnya pulang dan dirawat keluarga di rumah.
Warung Mbok Yem di puncak Gunung Lawu telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan spiritual dan fisik para pendaki.
Dedikasi dan keramahan Mbok Yem selama puluhan tahun menjadikan warung tersebut bukan sekadar tempat makan, melainkan simbol kekuatan, tradisi, dan kemanusiaan.
Kepergian Mbok Yem menandai berakhirnya sebuah era di puncak Gunung Lawu.
Namun, kenangan dan warisan semangatnya akan terus hidup di hati para pendaki dan masyarakat sekitar. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama