RADARTUBAN - Sukidi, seorang pemikir kebhinnekaan dan intelektual Indonesia, mengungkapkan pentingnya model kepemimpinan welas asih yang dicontohkan oleh Paus Fransiskus sebagai teladan yang sangat relevan dan dibutuhkan di Indonesia saat ini.
Menurut Sukidi dalam acara Kompas TV, nilai-nilai kasih sayang yang diterapkan oleh Paus Fransiskus sangat sejalan dengan semangat nasionalisme yang disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945, yang menekankan bahwa Indonesia adalah negara berketuhanan.
Sukidi menjelaskan bahwa Paus Fransiskus bukan hanya pemimpin agama, tetapi juga simbol moral dunia yang memberikan keberpihakan pada kaum lemah dan menderita.
Kepemimpinan yang penuh kasih sayang, menurutnya, adalah yang sangat dibutuhkan oleh republik ini, agar Indonesia tetap kokoh di tengah tantangan zaman.
Dia menambahkan, dari Paus Fransiskus, bangsa Indonesia dapat belajar tentang kepemimpinan yang menjiwai welas asih—kemampuan membuka hati terhadap penderitaan orang lain dan merasakan penderitaan tersebut sebagai bagian dari pengalaman bersama.
Baca Juga: Upacara Pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan Dihadiri Pemimpin Dunia, Ini Daftar Lengkapnya
Hal ini mendorong seorang pemimpin untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan, bukan hanya menjadikan rakyat sebagai komoditas politik, tetapi sebagai bentuk pelayanan tertinggi demi kesejahteraan masyarakat.
Sukidi juga mengingatkan pentingnya prinsip ketuhanan yang penuh kasih, saling menghormati, dan menumbuhkan cinta kasih antar sesama.
Menurutnya, nilai-nilai ini sangat diperlukan agar Indonesia dapat terus berkembang dengan kokoh dan harmonis.
Sebagai perbandingan, Sukidi mengutip pengalaman Nelson Mandela yang meskipun menjalani masa penjara selama 27 tahun, tetap memelihara harapan.
Dia menegaskan bahwa harapan tersebut harus berlandaskan iman dan cinta, sebagaimana diajarkan oleh Paus Fransiskus dan Kardinal Suharyo.
Sukidi menutup pembicaraan dengan menyoroti keistimewaan Paus Fransiskus yang tidak hanya mengajarkan belas kasih dengan kata-kata.
Melainkani juga memberi teladan nyata melalui aksi-aksi di penjara, kamp pengungsian, dan zona perang.
Bagi Sukidi, ini adalah model kepemimpinan yang sangat dibutuhkan Indonesia—pemimpin yang mampu melintasi sekat-sekat perbedaan dan memandang rakyat sebagai tujuan utama pelayanan. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama