RADARTUBAN - Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza memastikan gangguan dari organisasi masyarakat (ormas) yang sempat mengganggu pembangunan pabrik mobil listrik asal China, BYD, di Subang, Jawa Barat, telah berhasil diatasi.
Menurut Faisol, pihak BYD menyatakan bahwa mereka mampu mengatasi gangguan tersebut.
Gangguan yang dimaksud berupa aksi premanisme oleh oknum ormas yang sempat menghambat proses pembangunan fasilitas manufaktur BYD.
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, sebelumnya mengungkapkan bahwa aksi premanisme ini mencoreng citra Indonesia di mata investor.
Dia menegaskan perlunya tindakan tegas dari pemerintah agar investor merasa aman berinvestasi di Indonesia.
Faisol Riza menyampaikan bahwa pihak Kementerian Perindustrian telah melakukan komunikasi dan pengecekan langsung dengan BYD.
Serta berharap agar kejadian serupa tidak terulang lagi demi menjaga iklim investasi yang kondusif di Tanah Air.
Investasi BYD di Indonesia, khususnya pembangunan pabrik di Subang, merupakan proyek strategis dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp 11,7 triliun yang diprediksi akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi nasional serta memperkuat sektor kendaraan listrik di Indonesia.
Dengan penanganan yang cepat dan komunikasi intensif, gangguan dari ormas ini diyakini tidak akan menghambat kelanjutan proyek penting tersebut dan diharapkan dapat memberikan kepastian hukum dan keamanan bagi investor di Indonesia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama