RADARTUBAN – Sebuah video ujian biologi di SMAN 1 Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, viral di media sosial dan memicu perdebatan publik.
Dalam video yang diunggah akun X (dulu Twitter) @whoopziiy, terlihat sejumlah siswa menggambar organ reproduksi manusia sebagai bagian dari ujian kelas XI.
Video itu direkam langsung oleh guru biologi, Wetty Yuningsih, yang tampak mendokumentasikan aktivitas para siswa di dalam kelas.
Unggahan tersebut menuai berbagai reaksi para netizen. Ada yang mendukung karena dianggap sebagai bagian dari edukasi, namun tak sedikit pula yang menilai konten itu kurang pantas disebarluaskan.
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala SMAN 1 Cililin, Syaepuddin, membenarkan bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari proses pembelajaran di sekolah.
“Tidak ada yang salah. Ini bagian dari pelajaran biologi yang menguji pemahaman siswa terhadap sistem reproduksi manusia,” jelasnya, Selasa (29/4).
Dia menambahkan bahwa materi tentang reproduksi penting dikenalkan sejak dini agar siswa memahami anatomi tubuh, menjaga kesehatan organ reproduksi, dan menyadari pentingnya tanggung jawab terhadap tubuh mereka sendiri.
Sementara itu, Wetty Yuningsih menyampaikan permohonan maaf atas unggahan video tersebut.
Melalui akun media sosial pribadinya, @wetyyuningsih, ia mengaku kurang bijak dalam membagikan konten pembelajaran ke ruang publik.
“Saya mohon maaf karena tidak berhati-hati dalam membuat konten yang seharusnya mungkin tidak perlu diunggah ke media sosial,” ucapnya.
Wetty menegaskan bahwa tugas menggambar organ reproduksi adalah bagian dari kurikulum biologi kelas XI, yang bertujuan agar siswa lebih memahami sistem reproduksi secara ilmiah.
Respons publik pun beragam. Beberapa warganet menilai tugas tersebut wajar dalam konteks pembelajaran.
“Tergantung perspektif. Ini pelajaran biologi, dan dulu zaman saya sekolah juga ada materi seperti ini,” tulis akun @wildcatlia.
Namun ada juga yang menyoroti pemilihan kata dalam narasi konten tersebut. “Harusnya pakai istilah ‘alat reproduksi’ biar lebih sopan dan sesuai konteks pendidikan,” komentar akun @SHerdiana18. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni