RADARTUBAN - Momen ulang tahun yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi hari penuh haru bagi seorang wanita muda di Cibinong, Kabupaten Bogor.
Wanita bernama Puput, yang baru saja putus cinta di hari ulang tahunnya ke-22, memilih cara unik untuk mengobati kesedihan.
Dia meminta petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Cibinong merayakan hari spesialnya bersama-sama.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu malam (30/4), sekitar pukul 20.00 WIB. Puput datang sendirian ke kantor Damkar dengan membawa kue ulang tahun lengkap dengan lilin angka 22.
Ia mengaku baru saja diputuskan oleh pacarnya tepat di hari ulang tahunnya, sehingga merasa butuh dukungan dan suasana baru untuk mengisi kekosongan hatinya.
Pada awalnya, Puput terlihat murung dan sempat mencurahkan isi hatinya kepada para petugas Damkar.
Namun, setelah berbincang dan mendapatkan dukungan serta nasihat dari tiga anggota Damkar yang sedang berjaga, suasana hatinya mulai membaik.
Para petugas pun menyambut Puput dengan hangat, memberikan ucapan selamat ulang tahun, dan bersama-sama meniup lilin di atas kue ulang tahun yang dibawanya.
"Awalnya mukanya sedih, tapi sudah curhat senang lagi. Pingin dirayain aja sekalian damkar yang ngucapin," kata salah satu petugas Damkar.
Dalam video yang viral di media sosial, Puput tampak mengenakan pakaian serba putih, tersenyum dikelilingi para petugas Damkar yang mengucapkan selamat ulang tahun.
Aksi para petugas Damkar Cibinong ini menuai banyak pujian dari warganet.
Video perayaan sederhana tersebut telah ditonton jutaan kali dan memenuhi kolom komentar dengan apresiasi atas empati dan keramahan para petugas yang mampu menghibur hati yang sedang patah.
"Tim damkar bisa memadamkan hati yang sedang panas jadi adem lagi hatinya," tulis salah satu warganet.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dukungan dan kehangatan dari orang sekitar, bahkan dari orang yang baru dikenal, bisa menjadi penawar di tengah kesedihan.
Petugas Damkar Cibinong pun membuktikan bahwa tugas mereka tak hanya memadamkan api, tapi juga mampu menghangatkan hati yang sedang terluka. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni