RADARTUBAN — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka lahir pada 1 Oktober 1987, bertepatan dengan hari Kamis Legi dalam penanggalan Jawa.
Ternyata, hari kelahiran ini menyimpan makna mendalam jika dilihat dari kacamata budaya Jawa, khususnya menurut primbon, warisan leluhur yang masih dipercaya banyak orang hingga kini.
Menurut primbon Jawa di website primbon.com, mereka yang lahir pada Kamis Legi dikenal memiliki cita-cita yang mulia dan menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan.
Karakter ini tampak selaras dengan sosok Gibran yang sejak awal terjun ke dunia politik membawa misi perubahan dan semangat pelayanan publik.
Orang dengan weton Kamis Legi disebut juga memiliki kemampuan melihat prospek jangka panjang.
Ini tercermin dalam sejumlah keputusan Gibran, baik saat menjabat sebagai Wali Kota Solo maupun ketika kini mendampingi Presiden dalam pemerintahan.
Namun, primbon juga mengingatkan bahwa sosok kelahiran Kamis Legi harus mampu bersikap tabah dan berhati-hati jika ingin melihat keberhasilan dari ide-ide besarnya.
Menariknya, meskipun Kamis Legi dikenal sebagai kelompok yang berpandangan luas, mereka rentan terjebak dalam persoalan-persoalan kecil sehari-hari.
Mereka juga disebut membutuhkan pujian, namun tak sulit mendapatkannya karena biasanya dikelilingi banyak teman.
Dalam konteks Gibran, ini terlihat dari citra populernya di kalangan muda dan kemampuannya membangun jejaring politik yang luas.
Namun, primbon juga mengajukan pertanyaan reflektif: apakah keinginan mencampuri urusan orang lain lahir dari niat tulus membantu, atau ada dorongan tersembunyi untuk menguasai lingkungan?
Ini tentu menjadi catatan menarik dalam menelaah perjalanan politik Gibran ke depan.
Kini, di usianya yang menginjak 37 tahun, Gibran masuk dalam fase penting menurut kitab primbon.
Disebutkan bahwa usia 37 hingga 42 adalah masa di mana jalan menuju sukses mulai terbuka lebar.
Rezeki lancar dan peluang besar ada di depan mata, asalkan dijalani dengan kerja keras, perhitungan matang, dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan.
Maka, masa jabatan Gibran sebagai Wakil Presiden bisa jadi adalah momentum emasnya.
Jika dia mampu memanfaatkannya dengan bijak, bukan tak mungkin puncak keberhasilan politik akan diraihnya.
Namun jika kesempatan ini disia-siakan, primbon memperingatkan: nasib buruk bisa terus membayangi.
Terlepas dari percaya atau tidaknya pada primbon, kisah weton Kamis Legi Gibran Rakabuming memberi sudut pandang menarik untuk memahami karakter dan perjalanan politik tokoh muda yang kini berada di jantung kekuasaan Indonesia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama