RADARTUBAN - Manusia tidak hanya tertarik pada masa lalu, tetapi juga sangat penasaran dengan prediksi masa depan, termasuk kapan kehidupan di bumi akan berakhir.
Para ilmuwan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA), bekerja sama dengan Universitas Toho di Jepang, melakukan penelitian untuk menilai kelayakhunian bumi di masa mendatang.
Dalam penelitian ini, mereka menggunakan simulasi superkomputer yang mampu memproyeksikan kondisi atmosfer bumi secara detail.
Dari 400 ribu simulasi yang dijalankan, hasilnya menunjukkan bahwa kadar oksigen di bumi akan menghilang dalam waktu kurang dari satu miliar tahun.
Matahari menjadi faktor utama yang menyebabkan berakhirnya kehidupan di bumi.
Dalam waktu satu miliar tahun ke depan, intensitas energi yang dipancarkan matahari akan meningkat, sehingga membuat suhu di bumi menjadi sangat panas.
Penelitian ini memperkirakan bahwa kehidupan di bumi akan berakhir sekitar tahun 1.000.002.021.
Jika dihitung dari tahun 2025, maka waktu yang tersisa sekitar 999.999.996 tahun lagi.
Memanasnya matahari akan menyebabkan perubahan iklim di bumi dengan meningkatkan suhu permukaan dan memicu penguapan air.
Kondisi ini akan mengganggu siklus karbon dan akhirnya menghentikan produksi oksigen.
Setelah itu, atmosfer bumi akan kembali menjadi kaya metana, mirip dengan keadaan bumi purba sebelum Peristiwa Oksidasi Besar terjadi.
Kazumi Ozaki, asisten profesor dari Universitas Toho yang terlibat dalam penelitian ini, dilansir dari Economic Time, menjelaskan bahwa umur biosfer bumi memang sudah lama menjadi bahan diskusi.
Namun, penelitiannya lebih menekankan pada penurunan bertahap karbon dioksida di atmosfer dan pemanasan yang berlangsung dalam skala waktu geologis.
"Umur biosfer bumi telah lama dibahas berdasarkan pengetahuan ilmiah tentang peningkatan kecerahan matahari dan siklus geokimia karbonat-silikat global," katanya dikutip dari Economic Times, Jum'at (16/4).
Penelitian sebelumnya memperkirakan bahwa biosfer bumi akan berakhir dalam waktu dua miliar tahun.
Namun, simulasi terbaru yang dilakukan oleh NASA menunjukkan bahwa kadar oksigen akan mulai menurun secara drastis hanya dalam waktu satu miliar tahun.
Meskipun secara teori kehidupan masih dapat bertahan dalam atmosfer seperti itu, kondisi yang terjadi dipastikan akan sangat buruk dan ekosistem yang ada akan terlihat sangat berbeda dibandingkan saat ini.
Meskipun waktu berakhirnya kehidupan di bumi masih sangat lama, manusia sudah sebaiknya mulai waspada dan lebih sadar terhadap kondisi lingkungan.
Times of India menyebutkan bahwa tanda-tanda perubahan atmosfer mulai terlihat saat ini.
Dalam 20 tahun terakhir, badai matahari dan lontaran massa koronal yang sangat kuat semakin sering terjadi.
Selain faktor astronomis, perubahan iklim akibat aktivitas manusia juga memperparah situasi.
Kenaikan suhu global dan mencairnya es di kutub mempercepat proses perubahan yang biasanya memakan waktu miliaran tahun.
Oleh karena itu, umat manusia perlu mulai mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.
Salah satu langkah yang diambil adalah melalui penelitian ilmiah. Beberapa ilmuwan menyarankan pemanfaatan teknologi untuk menemukan solusi, seperti menciptakan sistem pendukung kehidupan tertutup atau membangun habitat buatan.
Selain itu, ada pula ilmuwan yang mendorong pencarian planet lain yang berpotensi layak huni, seperti Mars, sebagai alternatif tempat tinggal di masa depan.
Studi ini berfungsi sebagai peringatan penting bagi masa depan dan masa kini.
Dengan memahami mekanisme di balik proses kehancuran bumi, para ilmuwan berharap dapat mengembangkan strategi untuk memperpanjang kelayakhunian planet ini.
Hal ini diharapkan memberi manusia lebih banyak waktu untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi bumi yang terus berlangsung.
Meski demikian, para ilmuwan juga menekankan pentingnya tindakan cepat dalam menangani perubahan iklim guna menunda atau mengurangi dampak yang terjadi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni