RADARTUBAN - Sejak tiga hari terakhir, media sosial digegerkan dengan keberadaan Grup Facebook perkumpulan para pelaku kekerasan pelecehan seksual yang dilakukan keluarga sedarah.
Warganet semakin resah setelah grup Facebook bernama “Fantasi Sedarah” diduga menjadi wadah penyebaran cerita dan foto kekerasan seksual dalam lingkup keluarga.
Kasus ini telah ramai dibicarakan di media sosial X yang menarik perhatian Divisi Humas Polri.
Grup tersebut beranggotakan lebih dari 30 ribu orang dan diduga memfasilitasi pertukaran cerita serta gambar eksplisit yang melibatkan pelecehan seksual antaranggota keluarga.
Dalam komunitas ini, anggota secara terbuka menceritakan pengalaman kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayah terhadap anak, anak terhadap orang tua, kakak terhadap adik, dan sebaliknya.
Tidak hanya berbagi cerita, anggota grup juga saling melakukan barter konten, termasuk foto korban.
Aktivitas ini menyebabkan kekhawatiran para warganet atas kerugian besar bagi para korban.
Terutama karena identitas mereka disebarluaskan tanpa izin.
Para korban yang terekspos dalam grup ini berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak di bawah umur hingga orang tua.
Kasus ini menambah daftar panjang ancaman kekerasan seksual yang terjadi di ruang digital.
Banyak pengamat menilai, lemahnya pengawasan terhadap platform media sosial memungkinkan komunitas-komunitas menyimpang seperti ini tumbuh dan berkembang secara tersembunyi.
Pihak berwenang menegaskan bahwa proses hukum sedang berjalan, dan langkah-langkah penegakan hukum akan diambil terhadap para pelaku serta pengelola grup tersebut.
Banyak warganet mendesak aparat kepolisian menangkap admin grup dan anggotanya karena dapat membahayakan.
Setelah kasus disorientasi seksual itu banyak diviralkan di X dan Instagram, pemilik grup itu diduga langsung mengganti nama Facebook menjadi Suka Duka.
Namun tak lama, grup itu pun lenyap. Belum diketahui, apakah nama grup diganti baru atau pemilik grup menonaktifkan grup karena sudah viral. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama