Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Puncak Ibadah Haji 2025: Jemaah Laksanakan Wukuf di Arafah dan Lanjutkan Rangkaian Utama di Mina

Bihan Mokodompit • Jumat, 6 Juni 2025 | 22:03 WIB
Jemaah haji sedang Wukuf di Arafah.
Jemaah haji sedang Wukuf di Arafah.

RADARTUBAN - Puncak ibadah haji 2025 telah dimulai, ditandai dengan pelaksanaan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah.

Prosesi ini menjadi salah satu momen paling sakral dalam puncak ibadah haji 2025, dan menjadi bagian yang tidak bisa ditinggalkan dari rukun haji.

Setelah magrib, jemaah akan bergerak ke Muzdalifah untuk melakukan mabit, dan dilanjutkan menuju Mina pada 10 Zulhijah.

 

Selepas mabit di Muzdalifah, para jemaah bertolak ke Mina, sebuah lokasi di distrik Masha'er, Provinsi Makkah.

Berdasarkan informasi dari Kementerian Agama RI, Mina dikenal sebagai kota tenda putih karena ribuan tenda berwarna putih permanen berdiri di atas lahan seluas 650 hektare.

Kota ini dikelilingi lembah dan pegunungan terjal, serta berbatasan dengan Wadi Muhasar di sisi timur.

Di Mina, jemaah akan melaksanakan salah satu ritual inti haji, yakni melontar jumrah.

Lokasi ini merupakan tempat bersejarah yang berkaitan dengan kisah Nabi Ibrahim AS yang melempar setan saat hendak menyembelih putranya, Nabi Ismail AS.

 

Pagi hari 10 Zulhijah, jemaah bergerak ke area Jamarat di Mina untuk melontar jamrah aqabah.

Ritual ini dilakukan dengan melemparkan tujuh batu kecil ke arah tiang jamrah sebagai simbol penolakan terhadap godaan setan.

Nabi Ibrahim AS disebutkan melempar setan dalam tiga kesempatan berbeda ketika diuji keimanannya. (HR. Bukhari & Muslim)

Melontar jamrah menjadi kewajiban dalam haji. Apabila tidak dilaksanakan, maka jemaah wajib membayar dam berupa penyembelihan kambing.

Ini menegaskan bahwa puncak ibadah haji 2025 mengandung dimensi simbolik sekaligus spiritual yang mendalam.

 

Setelah selesai melontar jamrah aqabah, jemaah melanjutkan dengan tahalul awal. Ini dilakukan dengan mencukur rambut (laki-laki) atau memotong sebagian rambut (perempuan), menandai selesainya sebagian larangan ihram.

Namun, masih ada tiga larangan yang belum dicabut: menikah atau menikahkan, bercumbu dengan syahwat, dan hubungan suami istri.

Tahalul ini menjadi fase penting sebelum jemaah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji dan melangkah menuju kebebasan penuh dari status ihram.

 

Tahapan selanjutnya adalah tawaf ifadhah, yang dilakukan dengan mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh putaran, dimulai dari Hajar Aswad.

Ritual ini merupakan rukun haji yang wajib dilaksanakan agar ibadah hajinya sah.

Setelah tawaf, jemaah melanjutkan ke Bukit Shafa dan Marwah untuk melakukan sai. Prosesi ini menggambarkan perjuangan Siti Hajar dalam mencari air untuk putranya, Ismail.

Sai dilakukan tujuh kali bolak-balik, dan jemaah harus dalam keadaan suci jika belum melakukan tahalul kedua.

 

Langkah terakhir dari rangkaian ibadah utama adalah tahalul kedua. Setelah prosesi ini, semua larangan ihram, termasuk hubungan suami istri, telah dicabut.

Dengan demikian, puncak ibadah haji 2025 memasuki tahap penyempurnaan.

Namun, jemaah masih harus menyelesaikan lontar tiga jamrah pada hari-hari tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Zulhijah.

Mereka dapat memilih nafar awal atau nafar tsani, tergantung pada keputusan masing-masing. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#arafah #puncak haji #Haji #mina #wukuf