RADARTUBAN – Setiap 22 Juni, dunia memperingati Hari Hutan Hujan Sedunia sebagai pengingat betapa vitalnya peran hutan hujan bagi kehidupan manusia dan kelestarian ekosistem global.
Di Jawa Timur, sejumlah kawasan hutan hujan tropis masih bertahan.
Tak sekadar lanskap hijau, hutan ini menjadi rumah bagi ribuan spesies, pengendali iklim, penyedia air bersih, dan penyeimbang kehidupan yang tak tergantikan.
Sayangnya, hutan-hutan hujan tropis kian hari terus mengalami kerusakan.
Padahal, hilangnya hutan bukan hanya berarti hilangnya pepohonan—melainkan runtuhnya sistem pendukung kehidupan.
Ketika hutan musnah, masa depan yang seharusnya diwariskan kepada generasi selanjutnya ikut terenggut.
Hutan hujan tropis seperti Amazon, Kongo, dan kawasan Asia Tenggara memainkan peran penting dalam menyerap karbon dioksida, menghasilkan oksigen, dan menjaga siklus air dunia.
Dampaknya tidak hanya berskala lokal, tetapi menjalar ke seluruh planet, memengaruhi keberlangsungan hidup spesies lain, termasuk manusia.
Hari Hutan Hujan Sedunia diperingati sebagai ajakan mendesak bagi individu hingga pemerintah untuk menghentikan deforestasi dan melindungi kekayaan alam ini.
Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Rainforest Partnership, organisasi nirlaba yang berbasis di Amerika Serikat dan menjadi bagian dari Dewan Ekonomi dan Sosial PBB (ECOSOC).
Sejak 2017, mereka memprakarsai Hari Hutan Hujan Internasional sebagai platform aksi kolektif global.
Hingga kini, lebih dari 70 mitra di seluruh dunia telah terlibat—mulai dari media, komunitas lingkungan, hingga institusi pendidikan.
Dengan slogan "Because the World Can’t Wait", kampanye ini menegaskan urgensi untuk bertindak sekarang, sebelum hutan-hutan terakhir kita benar-benar lenyap.
Jawa Timur masih memiliki bentang hutan hujan tropis yang relatif alami dan terjaga: Taman Nasional Alas Purwo di Kabupaten Banyuwangi.
Taman ini terbentang seluas 44.037 hektare dan mencakup wilayah Kecamatan Tegaldlimo hingga Purwoharjo.
Warisan sejak masa kolonial Belanda ini menyimpan keanekaragaman hayati luar biasa.
Di dalamnya tercatat lebih dari 700 jenis tumbuhan, 50 spesies mamalia, 320 jenis burung, 15 spesies amfibi, dan 48 spesies reptil.
Alas Purwo adalah contoh nyata bagaimana hutan bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan kunci penting untuk keberlanjutan masa depan. (*)