Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kilang BBM Raksasa Rp 377 T di Tuban Tak Kunjung Jalan, Bahlil Blak-blakan: Masih Belum Cocok!

Tulus Widodo • Rabu, 25 Juni 2025 | 04:50 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Proyek strategis nasional Kilang GRR Tuban mangkrak hampir satu dekade. Pertamina dan Rosneft masih tarik-ulur keputusan investasi. Apa yang bikin proyek ini belum tancap gas?

RADARTUBAN – Harapan Indonesia memiliki kilang minyak raksasa di Tuban, Jawa Timur, kembali terganjal.

Meski proyek Grass Root Refinery (GRR) Tuban sudah masuk kategori Proyek Strategis Nasional dan melibatkan investasi jumbo hingga Rp 377 triliun, progresnya masih jalan di tempat.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia blak-blakan mengungkapkan bahwa hingga kini pemerintah dan pihak investor — yakni Pertamina bersama mitra asal Rusia, Rosneft — masih sibuk melakukan evaluasi lanjutan.

“Kemarin kita bahas dengan Rosneft. Sampai sekarang kita lagi evaluasi investasinya. Antara nilai investasi dan keekonomian proyek masih belum cocok,” kata Bahlil dalam Jakarta Geopolitical Forum (JGF) ke-9, Selasa (24/6).

Pernyataan itu disampaikan tak lama setelah mendampingi Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg.

Proyek kilang yang ditargetkan bisa memproses 300.000 barel minyak per hari ini telah direncanakan sejak 2015.

Namun, meski lahan seluas 840 hektare sudah disiapkan di Kecamatan Jenu, tak ada tanda-tanda groundbreaking akan dimulai dalam waktu dekat.

Bahlil menegaskan, nilai investasinya mencapai sekitar US$ 23–24 miliar, namun hitung-hitungan keekonomian proyek masih belum sesuai ekspektasi.

“Secara ekonominya saya tidak bisa sampaikan detail, tapi intinya belum pas,” ujar Bahlil.

Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Taufik Aditiyawarman, menyebut Final Investment Decision (FID) dari Rosneft ditargetkan rampung pada kuartal keempat 2025.

Namun ia tak menampik bahwa adanya potensi pembengkakan anggaran akibat molornya waktu pengerjaan.

“(FID) ditargetkan kuartal 4 ini. Tapi proyeksi biayanya sudah pasti akan lebih besar dari rencana awal,” kata Taufik saat ditemui dalam gelaran 49th IPA Convex 2025 di ICE BSD, Tangerang Selatan.

Meski Rosneft tengah menghadapi sanksi dari Uni Eropa, kerja sama dalam bentuk Joint Venture tetap dilanjutkan.

Proyek ini dikerjakan oleh PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP), perusahaan patungan di mana Pertamina memegang 55 persen saham, dan Rosneft lewat afiliasinya di Singapura menguasai 45 persen.

Rencana pembangunan kilang ini sudah dimulai sejak 2015 saat Pertamina mengajukan proposal ke Kementerian BUMN.

Pada 2017, kemitraan resmi diteken di kantor BKPM. Lalu pada 2019, Pemprov Jawa Timur menetapkan lokasi pembangunan di Jenu, Tuban.

Meski telah masuk dalam Perpres 109 Tahun 2020 tentang Proyek Strategis Nasional, nyatanya hingga 2025 proyek ini belum menampakkan batang hidungnya. (*)

Editor : Amin Fauzie
#mangkrak #PT Pertamina Rosneft #Proyek Strategis Nasional #Kilang GRR Tuban