RADARTUBAN - Sekitar 3 ribu peserta dari berbagai wilayah diprediksi akan berpartisipasi dalam kompetisi Open Tournament Domino Menpora Cup 2025.
Ajang ini akan digelar pada 4-6 Juli 2025 di Tribun Lapangan Andi Jemma, Belopa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan.
“Ini akan menjadi salah satu kompetisi domino terbesar tahun ini, sebagai dukungan terhadap olahraga intelektual tradisional,” ujar Finn, Project Manager Higgs Games Island (HGI) dalam rilisnya, Kamis (26/6).
Kompetisi Luring dan Daring
Finn menyatakan bahwa pertandingan akan diadakan secara daring dan luring.
Berikut adalah tanggal-tanggal pentingnya:
- Babak Kualifikasi Online: 20–28 Juni 2025
- Konfirmasi Pendaftaran: 30 Juni 2025
- Smash Off (Grand Final): 4–6 Juli 2025
“Dengan format yang modern dan kompetitif, turnamen ini diharapkan mampu menarik partisipasi dari pemain pemula hingga profesional, sekaligus mempopulerkan domino sebagai cabang olahraga berbasis strategi dan kecerdasan,” ungkap dia.
Kompetisi yang merupakan hasil kerja sama antara Persatuan Olahraga Domino Indonesia (Pordi) Luwu, pemerintah daerah, Menpora, dan HGI ini memiliki tujuan ambisius.
Yaitu mempromosikan domino sebagai olahraga tradisional yang berkembang menjadi lebih profesional dan bergengsi hingga ke tingkat global.
Domino: Lebih dari Sekadar Permainan
Ketua PB Persatuan Olahraga Domino Indonesia (Pordi), Andi Jamaro Dulung, menyatakan bahwa domino adalah warisan budaya. Domino memiliki sejarah yang panjang, berasal dari Tiongkok pada abad ke-12.
Permainan ini menyebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia pada abad ke-17 hingga ke-18. Domino mengalami perkembangan pesat di Indonesia pada era 1950-an hingga 1960-an.
Masyarakat menjuluki permainan ini sebagai gaple. Seiring waktu, domino telah menjadi bagian integral dari budaya Indonesia, hadir dalam acara keluarga, festival, hingga pertemuan komunitas.
Sebagai elemen penting dari warisan budaya Indonesia, domino telah berevolusi melampaui sekadar hiburan.
Kini, domino menjadi simbol kebersamaan, kecerdasan kolektif, dan identitas budaya lokal yang tetap hidup dari generasi ke generasi, dari kota hingga pelosok desa. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama