RADARTUBAN — Krisis bahan bakar minyak (BBM) yang melanda Kabupaten Jember, kian memprihatinkan.
Distribusi yang tersendat akibat penutupan jalur nasional Gumitir menimbulkan efek domino: kemacetan panjang, antrean SPBU mengular, hingga terganggunya aktivitas masyarakat.
Merespons situasi darurat ini, Bupati Jember Muhammad Fawait mengambil langkah cepat dengan menerbitkan dua Surat Edaran (SE) strategis, Senin (28/7), untuk menekan dampak kelangkaan.
Mulai Selasa (29/7) hari ini, sekolah di Jember diminta beralih ke sistem pembelajaran daring, sementara Aparatur Sipil Negara (ASN) diberi keleluasaan bekerja dari mana saja alias Work From Anywhere (WFA). Kebijakan ini akan berlaku hingga pasokan BBM kembali normal.
Menurut Bupati Fawait, kebijakan tersebut bukan tanpa dasar. Terganggunya distribusi BBM akibat akses Gumitir yang tertutup menyebabkan kekacauan logistik dan kelangkaan pasokan, termasuk di sektor transportasi, pendidikan, dan pemerintahan.
“Penutupan Jalur Nasional Gumitir berdampak besar, bukan hanya pada kemacetan, tapi juga kelumpuhan distribusi BBM. Kita tidak bisa menunggu. Maka sekolah daring dan WFA jadi langkah cepat untuk menekan mobilitas,” ujar Fawait.
Hingga hari ini, antrean kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jember masih mengular.
Aktivitas masyarakat dan perekonomian pun tersendat. Banyak warga terpaksa mengurangi mobilitas karena keterbatasan bahan bakar. Sektor jasa, logistik, hingga pertanian ikut terpukul.
Langkah Work From Anywhere (WFA) bagi ASN diharapkan bisa mengurangi beban mobilitas harian dan konsumsi BBM di kalangan pegawai pemerintahan, sekaligus memastikan layanan publik tetap berjalan.
Kebijakan sekolah daring dan WFA ini akan dievaluasi secara berkala, dengan mempertimbangkan perkembangan distribusi BBM di lapangan. Bila kondisi membaik, kegiatan akan kembali normal seperti biasa.
Bupati Fawait juga menyampaikan imbauan tegas kepada masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau membeli BBM dalam jumlah besar yang melebihi kebutuhan.
“Tindakan membeli BBM secara berlebihan hanya akan memperparah situasi. Kita minta masyarakat tetap tenang dan bijak,” pinta mantan anggota DPRD Jatim itu.
Tak berhenti pada kebijakan lokal, Pemkab Jember juga telah bersurat resmi ke Pertamina Pusat, meminta penambahan kuota BBM serta percepatan distribusi ke wilayah Jember.
Langkah ini dilakukan untuk memastikan pasokan energi kembali stabil dan aktivitas masyarakat bisa pulih. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama