RADARTUBAN- Para ahli kesehatan mental memperingatkan bahwa konsumsi berlebihan konten tidak bermanfaat di media sosial seperti TikTok dan YouTube dapat menyebabkan penurunan fungsi kognitif, kondisi yang dikenal dengan istilah brain rot.
Istilah ini populer di kalangan generasi muda untuk menggambarkan penurunan kemampuan berpikir akibat terlalu sering menonton konten hiburan yang tidak memberikan stimulasi otak yang sehat.
Psikolog anak dan remaja dari Universitas Indonesia, Dr. Anita Sari, menyatakan bahwa brain rot bukanlah istilah medis resmi, namun fenomenanya nyata.
“Kita melihat banyak anak dan remaja yang menunjukkan gejala sulit fokus, mudah cemas, dan kehilangan motivasi belajar akibat terlalu lama menatap layar dan mengonsumsi konten instan,” ujarnya
Dr. Anita menjelaskan bahwa algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin.
Akibatnya, anak-anak cenderung terus-menerus disuguhi video pendek, lucu, dan menghibur tanpa memberikan nilai edukatif.
"Ini membentuk kebiasaan otak untuk mencari hiburan cepat dan enggan menerima stimulasi kompleks seperti membaca atau belajar," tambahnya.
Studi terbaru dari American Psychological Association juga menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap konten hiburan singkat dapat menghambat perkembangan kemampuan berpikir kritis dan memperburuk kualitas tidur anak-anak.
Pakar teknologi pendidikan, Rudi Wijaya, menambahkan bahwa fenomena ini juga berdampak pada motivasi belajar anak.
"Mereka terbiasa mendapatkan kesenangan instan. Akibatnya, proses belajar yang membutuhkan usaha dan waktu menjadi terasa membosankan," jelasnya.
Orang tua dan pendidik diminta waspada dan proaktif. Dr. Anita menyarankan agar orang tua membatasi waktu layar anak, menyediakan konten berkualitas, serta membangun rutinitas yang mendorong kegiatan fisik dan sosial di dunia nyata.
“Anak-anak tetap bisa menikmati teknologi, tapi dengan pendampingan dan batasan yang sehat. Kunci utamanya adalah keseimbangan,” tutupnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni