RADARTUBAN - PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuktikan diri sebagai raksasa logistik darat Tanah Air. Selama periode Januari–Juli 2025, KAI mencatat total angkutan barang mencapai 39,2 juta ton.
Angka ini tak hanya mencerminkan ketangguhan moda transportasi rel, tapi juga menegaskan perannya sebagai penggerak utama distribusi energi vital di Indonesia.
Dari sekian banyak komoditas yang diangkut, batu bara menjadi primadona dengan kontribusi 82,83% atau lebih dari 32 juta ton.
Batu bara tersebut menjadi penopang pasokan energi untuk rumah tangga, industri, hingga UMKM di berbagai wilayah, terutama Jawa dan Bali.
Keunggulan kereta api dalam sektor angkutan barang memang sulit disaingi.
Dengan kapasitas muat besar, jalur khusus rel yang terbebas dari kemacetan, serta ketepatan waktu yang tinggi, KAI mampu memastikan suplai energi berjalan tanpa hambatan berarti.
Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari sinergi antara operator, pelanggan, dan pemerintah.
“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan, bukan hanya sebagai sarana transportasi, tapi juga sebagai motor penggerak ekonomi nasional,” ujarnya.
Ke depan, KAI membidik pertumbuhan angkutan barang hingga 15% pada tahun 2029.
Sumatera Selatan, dengan jaringan jalur rel batu bara yang sudah mapan, diproyeksikan menjadi pilar utama pencapaian target tersebut.
Selain itu, KAI juga terus mengembangkan layanan angkutan komoditas non-batu bara, seperti semen, CPO, dan hasil pertanian, demi memperluas portofolio bisnis logistiknya.
Selain efisiensi, kereta api dikenal lebih ramah lingkungan dibandingkan moda darat berbasis truk.
Pengangkutan skala besar lewat rel mampu menekan emisi gas buang per ton barang yang diangkut.
Langkah ini sejalan dengan komitmen KAI terhadap prinsip safety dan sustainability.
Dengan catatan performa cemerlang dan visi ekspansi ke depan, KAI tak hanya sekadar mengangkut barang, melainkan ikut menggerakkan roda ekonomi negeri. (*)
Editor : Amin Fauzie