RADARTUBAN — Langkah berani ditempuh Badan Pengelola Investasi Daya Anantara Nusantara (BPI Danantara).
Lembaga ini menyiapkan operasi konsolidasi masif yang akan memangkas jumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dari 1.046 perusahaan menjadi hanya 228 entitas inti.
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyebut restrukturisasi ini bukan sekadar efisiensi, melainkan upaya mengembalikan BUMN ke jalur core business masing-masing.
Targetnya jelas: menghentikan kebocoran Rp 50 triliun per tahun, meningkatkan dividen, dan memperkuat daya saing global.
“Mayoritas BUMN tidak efisien. Faktanya, 52 persen merugi, dan hanya 8 perusahaan yang menyumbang 97 persen dividen untuk negara,” tegas Dony dikutip dari IDN Times.
Selama ini banyak BUMN dianggap “kemaruk bisnis”. Contohnya, Pertamina yang dikenal sebagai raksasa migas, ternyata juga punya lini usaha agen perjalanan hingga rumah sakit—jauh dari core business. Dalam rencana baru, unit-unit di luar sektor migas akan dipisahkan melalui spin-off agar Pertamina kembali fokus pada energi.
Konsolidasi Besar-Besaran: Dari Logistik hingga Telekomunikasi
Danantara sudah menyiapkan empat tahap transformasi:
1. Penelitian fundamental
2. Penyederhanaan konsolidasi bisnis
3. Implementasi transformasi
4. Penciptaan nilai tambah
Salah satu langkah konkret adalah penggabungan 18 perusahaan logistik seperti Angkasa Pura Logistik dan Pelindo Logistik ke dalam satu entitas nasional yang lebih efisien.
Hal sama juga akan diterapkan di sektor minyak dan gas, telekomunikasi, hingga transportasi.
Dengan manajemen yang lebih ramping dan terkonsolidasi, BUMN diharapkan mampu menyumbang minimal US$ 50 miliar per tahun ke kas negara.
Tak hanya itu, program ini juga ditargetkan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan dividen, dan memacu pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika konsolidasi berjalan mulus, publik tak hanya akan melihat BUMN yang lebih sehat secara finansial, tetapi juga lebih kompetitif menghadapi persaingan internasional.
Negara pun bisa menghindari risiko kerugian besar yang selama ini menghantui laporan keuangan BUMN. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama