Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Kebutuhan Gula Terus Naik, Indonesia Masih Bergantung Pada Impor

Dyah Ayu Oktiara Putri • Sabtu, 30 Agustus 2025 | 17:03 WIB
Ilustrasi gula
Ilustrasi gula

RADARTUBAN - Kebutuhan gula nasional terus meningkat dari tahun ke tahun, namun kapasitas produksi dalam negeri masih jauh dari cukup.

Kondisi ini membuat pemerintah terpaksa menutup celah kebutuhan dengan impor gula, khususnya gula rafinasi untuk industri.

Deputi Bidang Koordinasi Usaha dan Pertanian Kemenko Pangan, Widiastuti, mengungkapkan permintaan gula tetap bertumbuh meski pola konsumsi masyarakat mulai berubah.

"Kebutuhan gula di Indonesia ini setiap tahun meningkat, walaupun kita juga tahu pola hidup, pola hidup atau habitnya dari masyarakat kita sudah mengurangi konsumsi gula," ujar Widiastuti, dilansir dari CNBC Indonesia, Jum’at (29/8).

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, kebutuhan gula naik sekitar 2-3 persen per tahun.

Pada periode yang sama, produksi juga meningkat 5-6 persen per tahun, namun tetap belum mampu mengejar kebutuhan yang hampir menyentuh 6,5 juta ton.

Sayangnya, produksi nasional rata-rata pada 2024 hanya mencapai 2,46 juta ton.

Dari jumlah tersebut didapat dari konstribusi BUMN sebesar 1,17 juta ton dan swasta 1,28 juta ton.

Pertumbuhan produksi 2020-2024 hanya mencapai 3,91 persen, dengan BUMN sedikit lebih unggul 5,49 persen.

Widiastuti juga menegaskan, target swasembada gula yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto bukanlah hal mudah untuk diwujudkan.

Keterbatasan lahan tebu serta minimnya pabrik pengolahan masih menjadi kendala utama.

"Itu (swasembada gula) memang tidak mudah. Banyak hambatan dan tantangan yang harus dilalui. Di mana masalah penyediaan lahan untuk perluasan tebu dan pabrik," jelas Widiastuti.

Sementara itu, melansir dari CNBC Indonesia, Sekretaris Jenderal Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Nur Khabsyin, memperkirakan musim giling 2025 akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Ia memproyeksikan produksi gula konsumsi bisa tembus 2,6 juta ton, naik sekitar 25% per hektare berkat meningkatnya produktivitas tebu.

"Untuk gula, prediksi tahun ini produksinya gula konsumsi 2,6 juta ton. Karena ini produksinya naik nih, rata-rata per hektare naik 25 persen," Ujar Nur Khabsyin kepada CNBC Indonesia, Kamis (28/8)

Data APTRI juga mencatat, luas tanam tebu meningkat dari 440 ribu hektare pada 2016 menjadi 520 ribu hektare di tahun 2024.

Produktivitas tebu sempat berfluktuasi, dari 75,58 ton/ha di 2016 turun menjadi 61,50 ton/ha pada 2023, lalu pulih kembali menjadi 63,78 ton/ha di 2024.

Rendemen gula sendiri relatif stagnan di kisaran 6,6–8 persen, dengan capaian terakhir 7,42 persen.

Jika ditelusuri lebih jauh, tren produksi gula sejak 2016 menunjukkan kenaikan terbatas.

Dari 2,20 juta ton pada 2016, sempat meningkat ke 2,40 juta ton di 2022, turun ke 2,27 juta ton pada 2023, dan kembali naik ke 2,46 juta ton pada 2024.

"Kalau kita lihat dari tren ini, sebenarnya ada perbaikan dari sisi produktivitas. Tahun ini kami optimis bisa tembus di kisaran 2,6-2,7 juta ton untuk produksi gula konsumsi eks tebu. Jadi memang ada peluang perbaikan cukup signifikan," pungkas Nur Khabsyin. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Konsumsi gula Indonesia #BUMN #kebutuhan gula #tebu #produksi gula #gula