Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Survei OCBC : Generasi Muda Makin Materialistis, Finansial Makin Rapuh - Anak Muda Indonesia di Ujung Krisis Finansial?

Tulus Widodo • Sabtu, 27 September 2025 | 16:05 WIB
Survei OCBC 2025: Anak muda makin materialistis, tabungan turun, dana darurat hilang, finansial rapuh.
Survei OCBC 2025: Anak muda makin materialistis, tabungan turun, dana darurat hilang, finansial rapuh.

RADARTUBAN – Generasi muda Indonesia makin pintar pakai fintech, makin sering pamer aset di media sosial, tapi ternyata makin rapuh secara finansial.

Survei OCBC Financial Fitness Index 2025 seperti dilansir dari Ipotnews membongkar kenyataan pahit: kesehatan keuangan anak muda usia 25–35 tahun di Indonesia anjlok untuk pertama kalinya dalam empat tahun terakhir.

Indeks yang tadinya stabil, kini merosot 0,65 poin ke level 40,6.

Dengan skor maksimal 100, angka ini sebenarnya masih masuk kategori “sehat.”

Tapi tipis sekali—nyaris masuk zona merah alias kategori rendah (0–40,59).

Singkatnya: tinggal selangkah lagi anak muda RI bisa dianggap krisis finansial.

Tabungan Turun, Dana Darurat Hilang

Data survei bikin kening berkerut. Jumlah responden yang rajin menabung turun dari 92 persen menjadi 89 persen.

Penurunan paling tajam terjadi di kalangan berpenghasilan Rp 5–15 juta per bulan—segmen yang selama ini dianggap “kelas menengah mapan.”

Lebih parah lagi, hanya 19 persen anak muda yang punya dana darurat untuk bertahan jika kehilangan pekerjaan.

Tahun lalu masih 25 persen. Artinya, mayoritas generasi muda rawan goyah begitu gaji terhenti.

“Kalau bicara ideal, kita jauh banget. Padahal ekonomi makin penuh risiko,” ungkap OCBC dalam rilis surveinya.

Materialisme vs Literasi Investasi

Alih-alih memperkuat dana darurat atau diversifikasi investasi, banyak responden justru lebih suka menaruh uang di aset material—rumah, barang mewah, hingga gadget.

Pandangan materialistik soal “kekayaan” makin kuat, seolah kekayaan = apa yang bisa dipamerkan.

Namun ada sedikit titik terang: kepemilikan investasi kompleks (reksa dana, saham, valas, hingga kripto) naik jadi 4 persen dari sebelumnya 2 persen.

Investasi emas batangan juga meningkat dari 2 persen ke 6 persen. Sayangnya, sebagian besar dilakukan tanpa pemahaman yang memadai.

OCBC: Segmen Anak Muda Jadi Ladang Baru

OCBC justru melihat peluang. Menurut Johannes Husin, Direktur Consumer Banking OCBC Indonesia, generasi muda dan keluarga muda kini akan jadi fokus baru bisnis perbankan personal.

“Kami lebih percaya diri mengembangkan bisnis ini. Mereka tetap butuh proteksi, edukasi investasi, dan pengeluaran yang bertanggung jawab,” tegasnya.

Bank asal Singapura itu akan memanfaatkan momentum digitalisasi untuk mendorong layanan personal banking lebih agresif.

Skor yang Memburuk

Rincian indeks bikin situasi makin jelas:

Skor dasar finansial (kemampuan bayar cicilan, jaga cashflow, hingga utang tanpa jaminan) anjlok 4,57 poin ke level 70.

Skor keamanan finansial (dana darurat, tabungan, tahan hidup 6 bulan tanpa gaji) turun 0,32 poin ke 43,89.

Hanya pertumbuhan finansial (+1,56) dan kebebasan finansial (+0,91) yang sedikit membaik.

Artinya, anak muda mulai peduli soal investasi, tapi pondasi dasarnya—tabungan dan dana darurat—rapuh.

Naik Kelas atau Turun Derajat?

Singapura pernah mencatat skor 61 pada 2024 sebelum surveinya dihentikan.

Bandingkan dengan Indonesia: masih di angka 40-an dan sekarang malah menurun.

OCBC menilai, kalau tren ini dibiarkan, generasi muda bisa jadi “sandungan” pertumbuhan ekonomi nasional.

Tapi di sisi lain, kalau diarahkan dengan literasi finansial, proteksi, dan layanan digital, segmen ini justru bisa jadi mesin baru perbankan.

Singkatnya, anak muda Indonesia di 2025 berada di persimpangan: mau naik kelas dengan manajemen keuangan sehat, atau makin terjerat gaya hidup materialistik yang bikin kantong bolong dan masa depan goyah. (*)

 

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#tabungan #dana darurat #krisis finansial #OCBC #generasi muda