RADARTUBAN - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto telah menyelesaikan rangkaian kunjungan luar negeri yang berlangsung sejak 19 September 2025, mengelilingi empat negara.
Kunjungan tersebut juga termasuk keikutsertaan dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-80 di New York, Amerika Serikat.
Dalam perjalanan keliling tersebut, Prabowo sukses membawa pulang komitmen investasi senilai US$23,8 miliar atau setara Rp 380 triliun.
Salah satu negara utama yang dikunjungi adalah Jepang, di mana melalui Paviliun Indonesia pada Expo 2025 Osaka, Indonesia berhasil menarik investasi besar yang diproyeksikan mulai direalisasikan pada tahun 2026.
Penampilan Indonesia di Expo tersebut menjadikan ajang ini sebagai panggung diplomasi budaya sekaligus ekonomi yang strategis untuk memperkuat citra bangsa dan mendukung target Indonesia Emas 2045.
Selain di Jepang, kunjungan Presiden Prabowo juga mencakup negara-negara lain sebelum menghadiri Sidang Umum PBB.
Di PBB, Presiden Prabowo mendapat kesempatan berpidato sebagai pembicara ketiga setelah Brasil dan Amerika Serikat.
Pidatonya yang mengangkat tema perdamaian dunia dan dukungan kemerdekaan Palestina disambut dengan antusias oleh para delegasi dari 193 negara anggota.
Beberapa momen penting dalam pidatonya ditandai dengan tepuk tangan meriah, dan pada akhir pidato bahkan mendapatkan tepuk tangan meriah.
Pidato tersebut tidak hanya menuai pujian dari para pemimpin dunia tetapi juga mendapat apresiasi khusus dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Trump menyebut pidato Prabowo sangat luar biasa dan memuji gaya integritas serta keberanian Prabowo dalam mengutarakan kehadirannya di forum internasional.
Menteri Luar Negeri Indonesia Sugiono juga menyampaikan banyak pesan positif yang diterima dari berbagai kepala negara dan menteri luar negeri pasca pidato Presiden Prabowo.
Apresiasi ini menggarisbawahi diplomasi efektif yang membangun Indonesia dalam forum global.
Kunjungan kali ini menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang semakin diperhitungkan di kancah internasional, terutama dalam menarik investasi besar sekaligus menyuarakan kepentingan perdamaian dan kemerdekaan di dunia. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama