Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Orang Tua Siswa Minta MBG di Tuban Dievaluasi Menyeluruh: Berbelatung, Picu Keracunan, dan Keterlambatan

Andreyan (An) • Rabu, 1 Oktober 2025 | 16:04 WIB

 

Sejumlah guru di Yayasan Ash-Shomadiyah dibariskan sebelum menerima menu MBG dari SPPG, tapi hingga jam pulang tiba, mobil pengantar MBG tak datang (29/9).
Sejumlah guru di Yayasan Ash-Shomadiyah dibariskan sebelum menerima menu MBG dari SPPG, tapi hingga jam pulang tiba, mobil pengantar MBG tak datang (29/9).

RADARTUBAN – Meluasnya kasus keracunan makan bergizi gratis (MBG) memantik kecemasan orang tua atau wali murid di banyak daerah, termasuk di Tuban.

Para orang tua berharap, program ini dievaluasi terlebih dahulu sebelum dilanjutkan lagi.

Di lembaga pendidikan Ash-Shomadiyah Tuban, misalnya.

Berdasar hasil sosialisasi yang dilakukan pihak yayasan, hampir separo wali murid mengaku cemas dengan program MBG.

Mereka khawatir anaknya turut menjadi korban keracunan menu makanan yang disuplai dari dapur satuan pelayanan pemenuhi gizi (SPPG) tersebut.

‘’Pekan lalu, kami menyosialisasikan sekaligus mengabarkan kepada para wali murid—bahwa mulai pekan ini akan menerima program MBG. Berdasarkan hasil sosialisasi—setelah melihat banyaknya siswa yang mengalami keracunan, orang tua siswa berharap program ini dievaluasi terlebih dahulu,’’ kata pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ash Shomadiyah Tuban Riza Shalihuddin Habibie, kemarin (29/9).

Disampaikan Gus Riza, total ada sekitar 300 siswa calon penerima MBG dari jenjang madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), dan madrasah aliyah (MA) Ash-Shomadiyah.

Semestinya, terang dia, berdasar informasi yang didapat, MBG untuk siswa Ash-Shomadiyah dimulai kemarin. Namun, hingga jam pulang sekolah tiba, mobil pengantar MBG yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.

‘’Anak-anak sudah menunggu, bahkan ada yang sudah membawa sendok dan peralatan makan dari rumah, malahan pihak SPPG melakukan pembatalan penyaluran melalui pesan singkat,’’ bebernya.

Ditanya soal SPPG mana yang bertanggung jawab, pengasuh ponpes di Jalan KH Agus Salim itu mengaku tidak tahu. Pasalnya, selama ini tidak ada koordinasi dari pihak SPPG.

‘’Kesannya mendadak semua dan tanpa ada koordinasi,’’ katanya.

Idealnya, terang Gus Riza, pihak SPPG melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan sosialisasi ke wali murid terlebih dahulu.

Tujuannya, untuk meyakinkan kepada orang tua siswa—bahwa makanan yang dikonsumsi anak-anak itu layak dan aman. Terutama untuk memastikan takaran gizinya.

‘’Saya pikir, program MBG ini terburu-buru. Kesannya hanya memperluas sasaran penerima MBG saja. Padahal, kasus keracunan di banyak daerah, termasuk di Tuban sendiri—di SMKN Palang, hasil penyelidikannya seperti apa juga belum tuntas? Harusnya, fokus melakukan evaluasi terlebih dahulu. Apalagi banyak orang tua yang trauma,’’ paparnya.

Gus Riza menegaskan, kendati banyak orang yang cemas dengan program MBG, namun pihaknya tetap menerima program tersebut dengan catatan.

‘’Setidaknya (untuk mengantisipasi adanya siswa yang keracunan, Red) kami menyiapkan tiga tahapan tester. Dimulai quality control di tingkat SPPG, kemudian waktu pengirimannya juga dikontrol, dan sebelum dikonsumsi anak-anak juga harus dipastikan lagi kelayakannya,’’ ungkapnya.

Untuk itu, tegas Gus Riza, pihak sekolah harus benar-benar dilibatkan dalam program ini.

‘’Kami (pihak sekolah, Red) juga harus tahu, SPPG mana yang bertanggung jawab, siapa kepala SPPG-nya, hingga quality control seperti apa, pihak sekolah harus benar-benar dilibatkan. Jangan tiba-tiba langsung dikirim begitu saja,’’ tandasnya. (an/tok)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Tuban #Kontrol #evaluasi #Mbg #keracunan