RADARTUBAN – Bank Central Asia (BBCA) lagi-lagi jadi bulan-bulanan investor asing.
Dalam sehari, saham bank swasta terbesar di Tanah Air ini dihajar aksi jual bersih Rp 731 miliar lebih.
Namun, alih-alih tumbang, BBCA justru masih sanggup bertahan di papan atas Bursa Efek Indonesia (BEI) dan tetap jadi barometer sektor keuangan.
Pada perdagangan Rabu (1/10), arus jual bersih (net sell) asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) kian gencar.
Saham perbankan raksasa, terutama PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), jadi bulan-bulanan.
Data BEI mencatat total net sell asing di seluruh pasar mencapai Rp 737,7 miliar hanya dalam sehari.
Dengan tambahan ini, total aksi jual asing sepanjang tahun berjalan melonjak hingga Rp 55,48 triliun.
Yang paling parah, BBCA dibombardir net sell Rp 731,1 miliar di pasar reguler. BBRI tak kalah diserang: net sell Rp 445,8 miliar.
Tekanan ini makin menambah beban sektor keuangan yang sepanjang sesi perdagangan terlihat lesu.
Meski demikian, tak semua saham jadi korban. Investor asing justru mencatat pembelian bersih (net buy) terbesar pada saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) sebesar Rp 229,1 miliar.
Disusul PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) Rp 129,1 miliar, dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) Rp 123,1 miliar.
IHSG Melemah 17,24 Poin
Tekanan asing tersebut membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersengal. Indeks ditutup melemah 17,24 poin atau 0,21 persen ke level 8.043,8.
Dari 957 saham yang diperdagangkan, 300 naik, 400 turun, dan 257 stagnan. Total nilai transaksi tercatat Rp 23,98 triliun.
Sektor teknologi menjadi penyelamat dengan penguatan 4,9 persen, disusul barang konsumen primer 1,4 persen, dan barang baku 1,3 persen. Sektor energi ikut naik 0,6 persen dan sektor perindustrian 0,1 persen.
Namun sektor lainnya babak belur: barang konsumen non-primer turun 1 persen, transportasi 0,9 persen, sektor keuangan 0,69 persen, sektor properti 0,5 persen, infrastruktur 0,5 persen, hingga sektor kesehatan 0,13 persen.
Baca Juga: Saham Emtek Melesat 220 persen – Portofolio Anthoni Salim Jadi Magnet Bursa!
Top Cuan dan Top Tekor
Di tengah IHSG yang terkoreksi, beberapa saham mengalami pergerakan ekstrem.
Lima saham terjun paling dalam antara lain PT Pudjiadi & Sons Tbk (PNSE) anjlok 14,8 persen dan PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) ambles 14,6 persen.
Berikutnya, PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA) minus 10,3 persen, PT Argo Pantes Tbk (ARGO) rontok 10 persen, dan PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) terpangkas 9,9 persen.
Sebaliknya, lima saham terbang paling tinggi alias jadi mesin cuan investor adalah PT Damai Sejahtera Abadi Tbk (UFOE) yang melesat 34,7 persen, PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI) 34,3 persen, PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS) 34,1 persen, PT Esta Multi Usaha Tbk (ESTA) 34 persen, dan PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) 27 persen.
Pergerakan ini mencerminkan pasar yang sedang volatil dengan arus modal asing yang fluktuatif.
Analis menilai tekanan jual asing yang masif pada saham-saham big cap, khususnya perbankan, bisa menjadi alarm bagi investor domestik untuk lebih selektif memilih sektor. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni