RADARTUBAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menjelaskan bahwa negara kehilangan devisa tiap tahun sekitar Rp 776 triliun, disebabkan karena impor minyak yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri cukup tinggi.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menyebutkan bahwa produksi minyak siap jual atau lifting Indonesia saat ini hanya mencapai 580 ribu barel per hari (bph), sementara itu, konsumsi minyak di dalam negeri mencapai sekitar 1,6 juta bph.
"Jadi uang kita yang keluar untuk BBM ini cukup gede Rp 776 triliun. Makanya perintah Bapak Presiden adalah kita harus mendiri di energi, kedaulatan energi agar apa? Seluruh kebutuhan dalam negeri kita bisa kita penuhi dan uang kita tidak perlu ke luar negeri," ujar Menteri ESDM pada Jumat (10/10)
Sebagaimana diketahui, dalam dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 target lifting minyak di Indonesia adalah 605 ribu barel per hari, Bahlil optimistis target tersebut bisa tercapai pada tahun ini.
"Dan saya berjanji kepada Bapak-Ibu semua, karena ini sudah memasuki bulan Oktober, atas perintah Bapak Presiden (Prabowo Subianto), Insyaallah target lifting 2025 akan tercapai sesuai dalam APBN," katanya.
Selain itu Bahlil juga menjelaskan target tersebut adalah pekerjaan yang tidak mudah menurutnya, Berbeda dengan sektor pangan yang sama sama susah, namun lebih susah untuk menaikkan lifting minyak, karena waktu yang dibutuhkan untuk eksplorasi mencapai 3 sampai 5 tahun.
"Ini bukan pekerjaan sedikit. Ini beda dengan pangan kalau pangan itu susah juga tapi tidak sesusah untuk kita naikkan lifting, karena eksplorasi itu butuh waktu 3 sampai 5 tahun," tambah Bahlil. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni