RADARTUBAN - Toleransi dan wakaf kini menjadi dua kekuatan baru yang mendorong pembangunan sosial di Jawa Timur.
Melalui kegiatan Harmoni Umat Beragama Jawa Timur dan peluncuran program Wakaf Keabadian Cinta serta Wakaf Pelajar Madrasah, semangat kebersamaan antarumat beragama kian nyata diwujudkan.
Dalam kesem ini turut dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Dirjen Bimas Islam Abu Rokhmad, serta tokoh lintas agama ini memperlihatkan bagaimana toleransi dan wakaf mampu bersinergi menjadi pondasi kesejahteraan masyarakat.
Hadir pula Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur Akhmad Sruji Bahtiar dan Kepala Kemenag Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, bersama Penyelenggara Zakat dan Wakaf, Lukman Hakim.
Simbol Nyata Kerukunan Umat Beragama
Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan kekagumannya terhadap keberadaan enam rumah ibadah dari agama berbeda yang berdiri berdampingan di kawasan Royal Residence Surabaya.
Dia menilai kondisi ini sebagai simbol konkret dari Kerukunan Umat Beragama yang sudah lama tumbuh di Jawa Timur.
"Keharmonisan seperti inilah yang patut dijaga dan dijadikan contoh bagi daerah lain di Indonesia," ujar Nasaruddin.
Enam rumah ibadah tersebut meliputi Masjid Muhajirin, Vihara Buddhayana, Kapel Santo Yustinus, Pura Sakti Raden Wijaya, Gereja Kristen Indonesia (GKI) Wiyung Royal Residence, dan Kelenteng Ba De Miao.
Keberadaannya mencerminkan wajah Indonesia yang damai, beragam, dan saling menghargai.
Wakaf sebagai Gerakan Sosial dan Pendidikan
Program Wakaf Keabadian Cinta dan Wakaf Pelajar Madrasah yang diluncurkan bersamaan menjadi bukti nyata bahwa toleransi dan wakaf tidak berhenti pada tataran simbolik.
Keduanya berperan langsung dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di bidang pendidikan.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas pemahaman masyarakat bahwa wakaf bukan hanya urusan ibadah, tetapi juga strategi sosial untuk memberdayakan umat.
Wakaf Keabadian Cinta mendorong semangat kepedulian yang abadi, sementara Wakaf Pelajar Madrasah berfokus membantu pelajar agar terus berprestasi tanpa terbebani biaya pendidikan.
Harapan Implementasi di Daerah
Kepala Kemenag Kabupaten Tuban, Umi Kulsum, mengungkapkan harapannya agar gerakan Wakaf Keabadian Cinta dan Wakaf Pelajar Madrasah dapat diimplementasikan lebih luas, terutama kepada calon pengantin dan pelajar madrasah di Tuban.
Dia menekankan bahwa keberhasilan gerakan ini bergantung pada partisipasi masyarakat.
“Kita berharap kegiatan Program Wakaf Keabadian Cinta dan Wakaf Pelajar diharapkan bisa diimplementasikan kepada calon pengantin dan pelajar madrasah di Kabupaten Tuban dengan suka rela,” ujarnya.
Sinergi Nilai Spiritual dan Sosial
Melalui kegiatan ini, Jawa Timur menunjukkan bahwa toleransi dan wakaf bisa berjalan beriringan dalam memperkuat sendi-sendi sosial.
Kerukunan Umat Beragama yang diwakili oleh berdirinya enam rumah ibadah berdampingan, serta Wakaf Keabadian Cinta dan Wakaf Pelajar Madrasah yang berorientasi pada kemaslahatan, menjadi bukti bahwa nilai spiritual dapat bersinergi dengan pembangunan sosial.
Pesan penting dari kegiatan ini jelas: harmoni tidak sekadar ucapan, tetapi tindakan nyata yang menghidupkan solidaritas antarumat dan memperkuat kesejahteraan bersama. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama