RADARTUBAN - Pemerintah Indonesia sukses mencetak sejarah di sektor pertanian dengan menghentikan impor beras medium pada tahun ini.
Keberhasilan yang dicapai dalam satu tahun pemerintahan Presiden dan Wakil Presiden, Prabowo-Gibran, ini dicapai lebih cepat dari target empat tahun.
Stok beras nasional mencapai 4 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah, dan kesejahteraan petani naik signifikan.
Informasi ini disampaikan oleh Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, dalam podcast FILONOMICS yang tayang di kanal YouTube Kompas.com pada Senin (20/10).
"Sampai detik ini, tidak ada impor beras medium. Itu fakta yang tidak bisa dibantah," ujar Amran Sulaiman.
Beliau menambahkan bahwa capaian ini adalah hasil kolaborasi seluruh pihak yang diorkestrasi dengan baik di bawah komando Presiden.
Keberhasilan produksi ini didukung oleh pembenahan regulasi yang masif.
Dilaporkan, lebih dari 240 regulasi yang selama ini mempersulit sarana produksi di Kementerian telah dicabut.
Bahkan, untuk penyederhanaan pupuk saja, terdapat 145 regulasi yang disederhanakan, sehingga distribusi pupuk kini dapat langsung dari Kementerian Pertanian ke produsen.
Selain itu, pemerintah juga secara agresif memberantas mafia pangan dan korupsi.
Langkah tegas diambil, termasuk pemecatan langsung bagi oknum yang terbukti korupsi dan penindakan terhadap pelaku kejahatan seperti oplos beras.
"Selama kami di sini hampir 1 tahun, kasus oplos beras ada 36 tersangka," ungkap Amran Sulaiman.
Penindakan ini juga berlaku untuk kasus pupuk palsu dan produk yang tidak sesuai standar.
"Kesejahteraan petani naik 124 persen, nilai tukar petani itu kesejahteraan petani," jelas Amran Sulaiman. Peningkatan NTP ini didukung oleh total pendapatan petani (khusus beras) yang diperkirakan bertambah hingga Rp 113 triliun.
Untuk mempertahankan momentum, pemerintah mempercepat transformasi pertanian melalui modernisasi.
Seperti program cetak sawah baru dan penggunaan teknologi drone untuk menanam dan memanen, yang berhasil menekan biaya pokok produksi hingga di bawah Rp 12 juta per hektar.
Secara global, Indonesia juga mulai berperan sebagai eksportir.
Pemerintah telah mengirimkan 10.000 ton beras ke Palestina sebagai bentuk bantuan kemanusiaan dan diplomasi pangan.
Ke depan, fokus pemerintah akan bergeser ke hilirisasi perkebunan dan hortikultura, termasuk gula dan kedelai, untuk meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor.
Kepada generasi muda, Menteri Pertanian memberikan pesan inspiratif agar aktif terlibat di sektor pertanian.
"Mau kaya? Mau jadi konglomerat? Masuk sektor pertanian, 10 konglomerat Indonesia itu 8 atau 9 bergerak di sektor pertanian," pesan Amran Sulaiman.
Beliau menambahkan bahwa kunci sukses di sektor ini adalah mentalitas.
"Pesanku satu, pantang menyerah, pantang mengeluh, pantang meminta kecuali pada Tuhannya," tegasnya.
Beliau menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi kekayaan alam yang besar yang harus dimanfaatkan oleh generasi baru, sehingga di Indonesia tidak ada kata pengangguran.
Keberhasilan ini menandai perubahan besar dalam ketahanan pangan Indonesia, dari negara pengimpor menjadi produsen mandiri. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama