Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sampah Plastik Indonesia Bocor ke Laut hingga 650 Ribu Ton per Tahun, BRIN Ingatkan Bahaya Ekosistem

Alifah Nurlias Tanti • Selasa, 11 November 2025 | 04:30 WIB
Ilustrasi sampah plastik di laut. sampah plastik Indonesia yang masuk ke laut diperkirakan mencapai 650 ribu ton per tahun.
Ilustrasi sampah plastik di laut. sampah plastik Indonesia yang masuk ke laut diperkirakan mencapai 650 ribu ton per tahun.

RADARTUBAN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa setiap tahunnya sekitar 200 ribu hingga 650 ribu ton sampah plastik dari Indonesia bocor ke laut.

Angka ini bukan sekadar statistik, ini adalah ancaman nyata bagi ekosistem laut dan kehidupan manusia yang bergantung padanya.

Situasi ini sangat mengkhawatirkan.

Untuk mengatasinya, diperlukan langkah bersama yang melibatkan berbagai pihak, termasuk negara-negara di kawasan Indo-Pasifik.

Kolaborasi lintas batas menjadi kunci untuk menghentikan aliran sampah plastik dan menjaga laut tetap hidup bagi generasi mendatang.

Melansir dari Tempo, menurut Profesor Muhammad Reza Cordova dari BRIN, sekitar 10–20 persen sampah plastik yang bocor dari wilayah utara Jakarta dan barat Jawa bisa terbawa arus laut hingga ke Samudra Hindia.

Dalam waktu sekitar satu tahun, sampah-sampah ini bahkan bisa mencapai pesisir selatan Afrika.

Temuan ini disampaikan Reza dalam Lokakarya Internasional bertajuk Indonesia–Taiwan Collaboration in Scaling Up Marine Plastic Debris Governance in the Indo-Pacific.

Lokakarya tersebut menjadi ajang penting bagi para ahli dan pemangku kepentingan dari Indonesia, Taiwan, Jepang, dan Filipina untuk saling berbagi pengalaman dan inovasi dalam mengatasi kebocoran sampah ke perairan.

Dari sungai hingga laut, tantangan yang dihadapi serupa dan solusinya pun membutuhkan kerja sama lintas negara.

Direktur Departemen Pembangunan Internasional OAC, Lee Shan Ying, menekankan bahwa generasi muda punya peran penting dalam menjaga kebersihan laut.

Menurutnya, anak-anak muda bukan hanya penerus masa depan, tetapi juga agen perubahan hari ini.

Dia mencontohkan Taiwan, yang berhasil menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak usia dini.

Tak hanya itu, berbagai komunitas anak muda di sana juga aktif menciptakan inovasi untuk mengurangi limbah plastik dari kampanye kreatif hingga proyek daur ulang yang berdampak nyata.

Menurut Lee Shan Ying, kombinasi antara pengalaman panjang Taiwan dalam pengelolaan sampah dan semangat inovasi yang tumbuh di Indonesia bisa menjadi pemicu lahirnya sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di kawasan Indo-Pasifik.

The Habibie Center mengajak seluruh mitra, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk terus mendukung upaya pengelolaan sampah plastik laut.

Tantangan ini tidak bisa dihadapi sendiri, dibutuhkan kolaborasi nyata antara lembaga riset, pemerintah, dan komunitas.

Kerja sama lintas sektor inilah yang menjadi kunci menjaga keberlanjutan ekosistem laut.

Karena laut bukan hanya sumber kehidupan, tetapi juga warisan yang harus kita jaga bersama untuk generasi mendatang. (*/tia)

Editor : radar tuban digital
#inovasi #warisan #kebersihan #agen perubahan #daur ulang #kerja sama #laut #Negara #Pengelolaan #Kolaborasi #sampah plastik #badan riset dan inovasi nasional #pesisir #kebocoran