RADARTUBAN - Presiden RI Prabowo Subianto, dan Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menunjukkan sisi hangat dan unik yang jarang terlihat dalam hubungan antarnegara.
Dalam kunjungan terakhirnya, Prabowo memberikan hadiah khusus untuk anjing peliharaan (PM) Albanese yang bernama Toto, sebagai simbol persahabatan erat kedua pemimpin dan negara.
Hadiah berupa pakaian berwarna putih dengan list merah dan tali tuntun bertuliskan nama "Toto" ini diserahkan langsung oleh Prabowo kepada (PM) Albanese.
Momen ini diabadikan dan diunggah oleh akun resmi Instagram Sekretariat Kabinet Indonesia.
(PM) Albanese terlihat sangat senang menerima pemberian tersebut, yang dianggap lebih dari sekedar simbol, melainkan isyarat diplomasi baru yang mempererat hubungan kedua negara.
Sementara di pihak Indonesia, terdapat Bobby Kertanegara, kucing kesayangan Presiden Prabowo.
Sebagai balasan atas hadiah yang diberikan Prabowo untuk Toto, (PM) Albanese sebelumnya pernah memberikan kalung syal berwarna merah bertuliskan "Australia Love Indonesia" kepada Bobby.
Hadiah tersebut diberikan pada sebuah jamuan makan malam di rumah Dinas Menhan, Kertanegara, Jakarta Selatan, di mana (PM) Albanese juga mengelus dan memakaikan syal tersebut pada Bobby.
Momen ini menjadi bukti hangatnya hubungan kedekatan kedua pemimpin lewat cara yang tidak konvensional.
Sekretaris Kabinet Letkol Inf Teddy Indra Wijaya menilai bahwa diplomasi tidak harus selalu berbentuk perundingan formal atau pertemuan resmi.
Diplomasi pun bisa dilakukan dengan menjalin persahabatan, termasuk melalui hewan peliharaan para pemimpin yang menjadi simbol kedekatan antar bangsa.
Bobby dan Toto, meski belum pernah bertemu secara langsung, menjadi representasi persahabatan Indonesia dan Australia yang kuat dan harmonis.
Kunjungan Prabowo ke Sydney sebagai lawatan balasan atas kunjungan (PM) Albanese ke Jakarta setahun lalu.
Semakin mengukuhkan hubungan bilateral Indonesia dan Australia yang terus berkembang di berbagai bidang, tidak hanya ekonomi dan keamanan, tetapi juga melalui hubungan humanis yang hangat. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama