Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Usai Pertemuan dengan Gus Yahya, Para Kiai Tegaskan PBNU Tidak Akan Memakzulkan Ketua Umum

Siti Rohmah • Senin, 24 November 2025 | 16:08 WIB
Ketum PBNU Gus Yahya.
Ketum PBNU Gus Yahya.

RADARTUBAN - Sebanyak 50 kiai dari berbagai daerah berkumpul dan menyatakan bahwa tidak ada pemakzulan terhadap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Itu setelah pertemuan yang digelar pada Ahad malam, 23 November 2025 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat.

Katib 'Aam PBNU Ahmad Said Asrori, yang turut hadir dalam forum tersebut, menjelaskan bahwa para kiai yang hadir berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Sumatera Utara. Pertemuan ini menghasilkan tiga poin kesepakatan utama.

Pertama, para kiai mengusulkan dilaksanakannya silaturahmi berskala lebih besar untuk mendorong proses islah di tengah menguatnya isu konflik internal.

"Bagaimana ini sudah menjadi konsumsi publik bahwa ada masalah. Namun semua sepakat," ujar Ahmad seusai pertemuan.

Kedua, seluruh kiai sepakat bahwa kepengurusan PBNU harus tuntas hingga akhir masa jabatan satu periode yang akan berakhir sekitar satu tahun lagi.

Dengan demikian, mereka menegaskan tidak ada pemakzulan maupun desakan pengunduran diri terhadap Gus Yahya.

Ketiga, para kiai mendorong seluruh pihak untuk melakukan tafakur demi kemaslahatan bersama, termasuk untuk kepentingan masyarakat, warga NU, dan bangsa Indonesia.

"Tidak ada pengunduran dan tidak ada pemaksaan pengunduran diri. Tidak ada," tegas Ahmad.

Ahmad juga menyampaikan bahwa pergantian kepengurusan, jika memang diperlukan, hanya dapat dilakukan melalui forum tertinggi organisasi yakni Muktamar NU sesuai ketentuan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Latar Belakang Polemik Pemakzulan

Pertemuan ini berlangsung setelah beredar risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang merekomendasikan agar Gus Yahya mengundurkan diri.

Dokumen itu berasal dari rapat yang digelar pada Kamis, 20 November 2025 di Hotel Aston Jakarta dan ditandatangani oleh Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar.

Dalam risalah tersebut, Syuriyah meminta Yahya mundur dalam waktu tiga hari.

Jika tidak, Syuriyah PBNU disebut akan memberhentikannya dari jabatan Ketua Umum. Rapat dihadiri oleh 37 dari 53 pengurus harian Syuriyah.

Alasan Syuriyah antara lain terkait undangan PBNU kepada akademikus yang dianggap berafiliasi dengan jaringan Zionisme Internasional, Peter Berkowitz, dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU (AKN NU) pada Agustus 2025.

Kehadiran Berkowitz dinilai melanggar nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah serta Peraturan Perkumpulan NU Nomor 13 Tahun 2025 mengenai pemberhentian fungsionaris yang mencemarkan nama baik organisasi.

Selain itu, rapat Syuriyah juga menyinggung sensitivitas isu genosida Israel yang memicu keberatan terhadap kehadiran narasumber tersebut.

Gus Yahya sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf atas undangan kepada Berkowitz, dan mengaku tidak mengetahui latar belakang pandangan politiknya yang mendukung Israel. 

Dia menyebut kedatangan Berkowitz hanya untuk menjelaskan riset mengenai konsep hak asasi manusia.

Meski mendapat desakan mundur, Gus Yahya menegaskan tidak akan mengundurkan diri dan berkomitmen memimpin PBNU hingga masa khidmat berakhir satu tahun lagi.(*)

Editor : Yudha Satria Aditama
#Ketua Umum #jakarta pusat #kiai #gus yahya #pbnu