RADARTUBAN – Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh dalam beberapa hari terakhir memicu banjir dan tanah longsor di berbagai lokasi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebutkan bahwa banjir terjadi berturut-turut selama dua hari dan mengalir deras hingga memasuki permukiman warga.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Dorong Tata Ruang Sunda Jadi Kunci Atasi Longsor dan Banjir di Jabar
Kondisi banjir tak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit akibat air yang tercemar, gangguan sanitasi, hingga berkembangnya vektor seperti nyamuk dan tikus.
WHO, IFRC, serta Kementerian Kesehatan RI mencatat terdapat 6–10 penyakit yang paling sering muncul saat banjir.
Baca Juga: 11.11 Sudah Dekat! Begini Cara Aman Belanja Online di Tengah Banjir Promo dan Diskon Besar
Penyakit yang Paling Rentan Muncul Saat Banjir
1. Demam Tifoid
Tifoid disebabkan bakteri Salmonella Typhi yang menyebar melalui makanan dan minuman terkontaminasi.
Saat banjir, akses air bersih terganggu, membuat penyebaran penyakit ini berlangsung lebih cepat.
Gejalanya meliputi demam tinggi, sakit kepala, mual, dan gangguan pencernaan.
2. Kolera
Bakteri Vibrio cholerae menyebabkan diare hebat yang bisa mengakibatkan kematian jika tidak ditangani segera.
Sanitasi buruk dan keterbatasan air bersih selama banjir menjadi pemicu utama meningkatnya kasus kolera.
3. Hepatitis A
Virus Hepatovirus A mudah menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi tinja.
Banjir membuat sumber air bersih tercemar, sehingga risiko infeksi meningkat. Gejalanya antara lain demam, mual, urine pekat, hingga kulit menguning.
4. Malaria
Genangan air yang banyak setelah banjir menjadi tempat ideal berkembang biaknya nyamuk Anopheles.
Hal ini memicu melonjaknya kasus malaria. Pencegahan dilakukan dengan kelambu, obat nyamuk, serta pemberantasan sarang jentik.
5. Demam Berdarah Dengue (DBD)
DBD meningkat pascabanjir karena berkembangnya nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini bisa menjadi berbahaya jika masuk fase berat. Gejalanya seperti demam tinggi, nyeri sendi, mual, muntah, dan ruam.
6. Leptospirosis
Dikenal sebagai “demam banjir”, penyakit ini berasal dari bakteri Leptospira yang terdapat dalam urin tikus dan mencemari air banjir.
Bakteri masuk melalui luka atau selaput lendir. Terlambat ditangani dapat menyebabkan gagal organ.
7. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)
Hunian sementara yang padat, lembap, dan tidak higienis memudahkan penyebaran ISPA. Anak-anak dan lansia adalah kelompok yang paling rentan.
8. Penyakit Kulit
Kontak langsung dengan air banjir yang kotor dapat menyebabkan infeksi jamur dan bakteri, termasuk dermatitis dan iritasi kulit lainnya.
9. Hipotermia
Paparan air dingin dalam waktu lama membuat suhu tubuh turun drastis di bawah 35°C. BNPB pernah mencatat kasus kematian akibat hipotermia pada banjir besar yang melanda Jakarta.
10. Perburukan Penyakit Kronis
Pasien dengan penyakit kronis seperti jantung, diabetes, atau hipertensi berisiko kondisi kesehatannya memburuk karena terganggunya akses obat dan meningkatnya tekanan fisik maupun mental selama evakuasi.
Langkah Pencegahan agar Tetap Aman Saat Banjir
WHO, IFRC, dan Kemenkes RI merekomendasikan beberapa langkah penting untuk meminimalkan risiko penyakit selama banjir:
- Gunakan air bersih atau rebus air hingga matang untuk kebutuhan konsumsi.
- Hindari kontak langsung dengan air banjir, terutama jika memiliki luka.
- Gunakan sepatu bot atau pelindung kaki saat terpaksa melewati banjir.
- Bersihkan genangan air untuk mencegah berkembangnya jentik nyamuk.
- Cuci tangan dengan sabun sesering mungkin.
- Segera periksa ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala demam, diare, atau gangguan kulit. (*)