RADARTUBAN- BMKG bekerja sama dengan BNPB saat ini tengah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah terdampak bencana hidrometeorologi, termasuk Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Operasi ini bertujuan untuk mendukung penanganan bencana sekaligus mencegah gangguan akibat cuaca ekstrem.
Fokus di Bandara dan Pengungsian
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, turun langsung memantau operasi yang dilakukan di tiga bandara utama: Sultan Iskandar Muda (Aceh), Kualanamu (Sumut), dan Bandara di Padang (Sumbar).
Modifikasi cuaca diutamakan untuk memastikan distribusi logistik ke lokasi pengungsian dan penanganan darurat masyarakat tidak terganggu oleh hujan deras.
Metode Modifikasi Cuaca
Modifikasi dilakukan dengan menyebarkan kalsium oksida (CaO) ke awan hujan di wilayah rawan bencana, sehingga hujan yang seharusnya turun dapat tersebar dan tidak menambah dampak di lokasi terdampak.
Selain itu, penyebaran NaCl dilakukan di laut atau area yang tidak terdampak untuk mengendalikan potensi hujan. Operasi ini melibatkan lima pesawat yang diterbangkan dari posko Aceh, Medan, dan Padang.
Tujuan Ganda dan Peringatan Dinamika Atmosfer
Faisal menegaskan, OMC memiliki dua tujuan: menurunkan curah hujan di wilayah tertentu sekaligus mencegah hujan di lokasi rawan.
Ia juga memperingatkan bahwa dinamika atmosfer dalam beberapa hari ke depan masih fluktuatif, berpotensi memengaruhi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jambi, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi Barat, dan Papua.
Syarat Pelaksanaan Operasi
Operasi modifikasi cuaca hanya dapat dilakukan setelah daerah menetapkan status siaga darurat. Tanpa status tersebut, BMKG dan BNPB tidak dapat menjalankan OMC. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni