RADARTUBAN - Setiap tanggal 5 Desember, dunia memperingati Hari Sukarelawan Internasional (International Volunteer Day/IVD).
Momentum ini bukan sekadar seremoni, melainkan kesempatan untuk memberikan penghormatan kepada para relawan di seluruh dunia.
Mereka adalah orang-orang yang sering bekerja dalam senyap, tanpa pamrih, namun dampaknya nyata: memajukan perdamaian, pembangunan, dan solidaritas antar manusia.
Hari ini mengingatkan kita bahwa kesukarelaan bukan hanya aktivitas sosial, melainkan nilai yang menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih adil dan damai.
Relawan: Pahlawan Tanpa Panggung
Relawan sering kali tidak mendapat sorotan. Mereka bukan pejabat, bukan tokoh besar, bahkan kadang tidak disebut dalam berita.
Namun, di balik bencana alam, konflik sosial, atau program kemanusiaan, selalu ada relawan yang hadir. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kadang nyawa, demi membantu orang lain.
Kesukarelaan adalah bentuk solidaritas paling tulus. Tidak ada kontrak, tidak ada gaji, hanya niat untuk meringankan beban sesama.
Itulah yang membuat relawan layak disebut pahlawan tanpa panggung.
Tema Solidaritas Melalui Kesukarelawanan
Pada Hari Relawan Internasional tahun 2022, tema yang diangkat adalah solidaritas melalui kesukarelawanan.
Tema ini relevan hingga kini, karena dunia sedang menghadapi berbagai krisis: perubahan iklim, pandemi, konflik, dan ketidaksetaraan.
Relawan hadir sebagai jembatan solidaritas, mengingatkan bahwa masalah global hanya bisa diatasi dengan kerja bersama.
Solidaritas bukan sekadar kata indah, melainkan aksi nyata. Dan relawan adalah wujud paling konkret dari solidaritas itu.
Kesukarelaan di Indonesia
Di Indonesia, semangat kesukarelaan sudah lama hidup. Dari gotong royong di kampung, aksi sosial di kota, hingga relawan bencana yang selalu sigap hadir.
Namun, tantangannya adalah bagaimana kesukarelaan tidak hanya muncul saat krisis, tapi menjadi budaya sehari-hari.
Relawan tidak harus selalu turun ke lapangan. Menyumbangkan waktu, keterampilan, atau sekadar menyebarkan informasi yang benar juga bagian dari kesukarelaan. Semua orang bisa jadi relawan, dengan cara masing-masing.
Hari Sukarelawan Internasional pada 5 Desember adalah momentum untuk menghormati mereka yang bekerja dalam senyap, sekaligus mengingatkan kita bahwa solidaritas adalah kekuatan utama manusia.
Relawan bukan hanya membantu orang lain, tapi juga menjaga kemanusiaan tetap hidup.
Karena pada akhirnya, dunia tidak digerakkan oleh orang-orang yang hanya berkuasa, melainkan oleh mereka yang rela memberi tanpa pamrih. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni