RADARTUBAN - Setiap tanggal 9 Desember, dunia memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia.
Ada banyak cara untuk merayakannya: seminar antikorupsi, kampanye integritas, unggahan penuh idealisme di media sosial, hingga lomba poster bertema “Stop Korupsi!” yang biasa dilakukan sekolah-sekolah.
Namun, tetap saja, korupsi masih jadi berita yang muncul hampir setiap hari.
Seolah-olah ia adalah bagian dari rutinitas negeri ini: bangun tidur, korupsi, sarapan, korupsi lagi.
Kalau dipikir-pikir, peringatan ini seperti alarm yang selalu kita snooze. Berisik, tapi diabaikan.
Baca Juga: Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia) 2025: Bupati Tuban Mas Lindra Ajak Tegas Tolak KKN
Korupsi Bukan Sekadar Kejahatan
Korupsi sering dipandang sebagai kejahatan individu. Padahal, ia lebih dari itu: sebuah sistem yang dipelihara. Korupsi bukan hanya soal uang yang raib, tapi soal mentalitas yang terbentuk.
Ia tumbuh subur karena ada ruang, ada kesempatan, dan ada budaya permisif yang membiarkannya.
Dengan kata lain, korupsi bukan sekadar tindakan kriminal, melainkan kebiasaan yang sudah terlanjur mendarah daging.
Yang Salah Bukan Cuma Pejabatnya
Sering kita menyalahkan pejabat: “Itu sih yang di atas saja yang korup!” Tapi kalau ingin jujur, budaya permisif terhadap korupsi juga tumbuh dari masyarakat.
Dari hal-hal kecil yang terasa biasa: Nitip tanda tangan presensi, Pungli di jalan, Menyogok untuk urusan tertentu.
Hal-hal kecil ini dianggap sepele, tapi justru menjadi akar yang membuat korupsi terus hidup.
Korupsi bukan hanya soal miliaran rupiah di gedung parlemen, tapi juga soal kebiasaan sehari-hari yang kita anggap wajar.
Perang Panjang Melawan Kebiasaan
Hari Anti Korupsi Sedunia seharusnya jadi momentum untuk menyadari bahwa perang melawan korupsi bukan hanya melawan pejabat nakal, tapi melawan kebiasaan buruk yang sudah mengakar.
Perang panjang ini tidak bisa dimenangkan dengan slogan semata, melainkan dengan perubahan budaya.
Integritas harus dimulai dari hal kecil: jujur pada absen, menolak pungli, tidak menyogok, dan berani berkata tidak pada praktik curang.
Karena kalau hal kecil saja kita biarkan, bagaimana mungkin berharap hal besar bisa berubah?
Yah pada akhirnya, Hari Anti Korupsi Sedunia pada 9 Desember adalah pengingat bahwa korupsi bukan sekadar kejahatan, melainkan sistem yang dipelihara. Yang salah bukan cuma pejabatnya, tapi juga masyarakat yang permisif terhadap praktik curang.
Perang panjang melawan korupsi hanya bisa dimenangkan jika kita berani melawan kebiasaan yang sudah mendarah daging. Karena pada akhirnya, integritas bukan soal orang lain, tapi soal diri kita sendiri. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni