RADARTUBAN – Musisi dan aktor Iqbaal Ramadhan kembali membuka ruang refleksi mengenai perjalanan hidup dan kariernya yang penuh keputusan besar.
Dalam wawancara mendalam di kanal YouTube Oppal_ID, Iqbaal berbicara terbuka tentang fase ketenaran sejak usia belia, keberaniannya keluar dari zona nyaman, hingga trauma masa kecil yang kini ia tuangkan dalam karya musik terbarunya.
Iqbaal mengungkapkan bahwa salah satu keputusan paling krusial yang pernah ia ambil adalah meninggalkan karier cemerlang bersama boyband Coboy Junior (CJR) pada usia 16 tahun.
Keputusan tersebut diambil di tengah popularitas yang sedang berada di puncak.
Ia menyadari bahwa kenyamanan berlebihan dan berbagai privilege yang datang terlalu cepat berpotensi mengaburkan kesadaran diri, terutama bagi remaja yang tumbuh di bawah sorotan publik.
Menurut Iqbaal, privilege bukanlah sesuatu yang keliru. Namun, ketika privilege diterima tanpa refleksi dan kesadaran, hal tersebut justru bisa membentuk sikap merasa paling istimewa.
Ia mengaku takut terjebak dalam fenomena star syndrome, di mana seseorang kehilangan empati karena terbiasa diperlakukan berbeda.
“Privilege itu enggak salah, orang kerja keras buat dapetin itu. Yang salah kalau lu enggak sadar dan terlalu nyaman.
Begitu privilege-nya diambil, lu kaget,” ujar Iqbaal. Ia mencontohkan hal sederhana seperti antrean, yang baginya menjadi simbol bagaimana fasilitas berlebih bisa menggerus kepekaan sosial seseorang.
Mencari Jati Diri di Luar Sorotan, Keputusan melanjutkan pendidikan ke luar negeri menjadi langkah penting bagi Iqbaal untuk melepaskan identitas selebritinya. Jauh dari industri hiburan Indonesia, ia berusaha menjalani hidup sebagai “anak normal” tanpa perlakuan khusus.
Di lingkungan baru tersebut, ia menemukan kembali nilai-nilai dasar tentang kerja keras, persahabatan, dan kerendahan hati.
Ia mengaku pengalaman tersebut sangat membentuk cara pandangnya terhadap diri sendiri.
Bertemu dengan teman-teman sebaya yang memiliki pencapaian akademik luar biasa, kemampuan multibahasa, serta latar belakang beragam membuatnya menyadari bahwa ketenaran bukanlah tolok ukur kehebatan seseorang.
“Pas lu ngerasa hebat, terus dipindahin ke tempat yang orang-orangnya juga jauh lebih hebat, lu jadi mikir, buat apa sombong,” tuturnya. Pengalaman tersebut menjadi proses pendewasaan yang membantunya kembali ke dunia hiburan dengan kesadaran diri yang lebih matang.
Trauma Masa Kecil dan Karya yang Personal, Dalam wawancara tersebut, Iqbaal juga membahas proyek musik terbarunya di bawah moniker Baale, khususnya single berjudul “Yang Ku Takuti”.
Meski terdengar upbeat secara musikal, lagu tersebut menyimpan makna yang sangat personal. Iqbaal mengungkapkan bahwa lagu tersebut berangkat dari trauma masa kecil yang selama ini ia pendam dan coba pahami melalui karya.
“Lagu ini sebenarnya ngomongin trauma, cara gua berdamai dan ngomongin trauma lewat karya,” jelasnya. Ketakutan terbesar yang ia angkat dalam lagu tersebut bukan hanya soal luka masa lalu, tetapi kekhawatiran bahwa ia kelak bisa menjadi sosok yang justru menciptakan trauma bagi orang lain.
Ia mengaku takut, karena pengalaman pahit yang ia alami, dirinya secara tidak sadar tumbuh menjadi pribadi yang melukai atau meninggalkan luka emosional pada orang-orang di sekitarnya.
Menutup perbincangan, Iqbaal menekankan pentingnya menikmati proses dalam berkarya.
Ia menilai bahwa seni seharusnya lahir dari kecintaan terhadap proses, bukan semata tuntutan pasar atau profit. Menurutnya, ketika enjoyment hilang, karya akan kehilangan kejujuran.
Ia juga menyoroti pentingnya peran tim di balik setiap pencapaian. Melalui tagar #DibalikBalai, Iqbaal berusaha memberi ruang bagi para pekerja kreatif di balik layar yang sering luput dari sorotan publik.
“Lu harus suka bikinnya dulu. Bukan karena orang suka sama hasilnya,” pungkasnya.
Refleksi panjang Iqbaal Ramadhan menunjukkan perjalanan seorang seniman yang terus berupaya menjaga kesadaran diri, kejujuran berkarya, dan keberanian untuk bertumbuh di luar kenyamanan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni