RADARTUBAN – Daniel Kokotajlo, mantan karyawan OpenAI yang sempat menghebohkan dunia lewat prediksi soal “kiamat AI”, kini mulai melunakkan pandangannya.
Dia mengakui, perjalanan menuju sistem kecerdasan buatan yang benar-benar mampu menulis kode secara mandiri ternyata tidak secepat yang ia bayangkan sebelumnya.
Singkatnya, ancaman superinteligensi kemungkinan masih membutuhkan waktu lebih panjang untuk benar-benar terwujud.
Nama Kokotajlo mencuri perhatian publik pada April lalu ketika ia memperkenalkan skenario hipotetis bertajuk “AI 2027”.
Dalam gambaran tersebut, perkembangan AI digambarkan melaju tanpa kendali hingga melahirkan sistem supercerdas yang melampaui manusia.
Baca Juga: OpenAI Perkenalkan ChatGPT Health, Asisten AI untuk Bantu Pahami Data Kesehatan Pribadi
Dalam skenario itu, AI diceritakan mampu memperdaya para pemimpin dunia. Ujungnya, umat manusia digambarkan berada di ambang kepunahan.
Narasi dramatis ini pun langsung memantik beragam reaksi.
Sebagian pihak menilainya sebagai peringatan serius, sementara yang lain menganggapnya terlalu berlebihan dan cenderung spekulatif.
Isu tersebut bahkan sempat disinggung Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance saat membahas cepatnya perlombaan senjata berbasis kecerdasan buatan antara Amerika Serikat dan China.
Pernyataan itu kian menambah bobot perdebatan global mengenai arah dan risiko perkembangan teknologi AI.
Namun, tak semua kalangan sepakat dengan skenario suram tersebut. Gary Marcus, profesor emeritus ilmu saraf dari New York University, menilai “AI 2027” tak lebih dari fiksi yang dilebih-lebihkan.
Menurutnya, kesimpulan yang ditarik dalam skenario tersebut jauh dari realistis jika melihat kondisi teknologi saat ini.
Perdebatan pun kembali mengerucut pada satu pertanyaan besar: kapan kecerdasan buatan transformatif—atau artificial general intelligence (AGI)—akan benar-benar muncul?
Pertanyaan ini terus menjadi bahan diskusi hangat di kalangan peneliti dan komunitas keselamatan AI, mengingat dampak AGI berpotensi menggantikan manusia dalam banyak pekerjaan kognitif.
Sejak ChatGPT pertama kali diluncurkan pada 2022, prediksi kemunculan AGI memang terasa semakin dipercepat.
Banyak pihak yang semula memperkirakan kemunculannya masih berabad-abad lagi, kini menggeser proyeksi menjadi hanya beberapa dekade—bahkan ada yang menyebut dalam hitungan tahun.
Kokotajlo dan timnya sebelumnya mengantisipasi bahwa tahun 2027 akan menjadi tonggak ketika AI mampu melakukan pengodean secara penuh dan mandiri.
Namun belakangan, keraguan mulai mencuat.
Tidak hanya soal seberapa dekat kita dengan AGI, tetapi juga apakah istilah AGI itu sendiri masih relevan untuk menggambarkan masa depan teknologi kecerdasan buatan.
Pakar manajemen risiko AI Malcolm Murray menyebut, semakin banyak ahli kini memilih menahan laju optimisme mereka.
Salah satu alasannya, performa AI dalam setahun terakhir dinilai belum cukup konsisten untuk memastikan terjadinya lompatan besar dalam waktu dekat.
“Banyak orang mulai menyadari bahwa perubahan besar dalam masyarakat tidak terjadi secara instan,” ujarnya.
Menurut Murray, ada banyak hambatan nyata dalam kehidupan sehari-hari yang membuat proses transformasi teknologi membutuhkan waktu lebih panjang.
Pandangan senada disampaikan Henry Papadatos, direktur eksekutif SaferAI.
Dia menilai istilah AGI memang relevan pada masanya, ketika sistem AI masih sangat terbatas dan hanya unggul pada tugas-tugas spesifik, seperti bermain catur atau Go.
Sementara itu, CEO OpenAI Sam Altman pernah mengungkapkan bahwa target internal perusahaannya adalah menciptakan peneliti AI otomatis pada Maret 2028.
Meski demikian, Altman juga secara terbuka mengakui bahwa target ambisius tersebut belum tentu dapat tercapai sesuai rencana. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama