RADARTUBAN - Seleksi Terbuka Deputi Olahraga yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia menjadi ujian penting atas komitmen transparansi birokrasi dalam pengisian jabatan strategis negara.
Kebijakan ini menandai langkah baru Kemenpora dalam membuka ruang kompetisi jabatan tinggi tidak hanya bagi Aparatur Sipil Negara, tetapi juga kalangan profesional.
Seleksi Terbuka Deputi Olahraga tersebut ditujukan untuk mengisi Jabatan Pimpinan Tinggi Madya pada posisi Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga.
Langkah ini dinilai sebagai terobosan karena baru pertama kali Kemenpora mengundang peserta dari luar ASN untuk bersaing secara terbuka dalam seleksi JPT Madya.
Seleksi Terbuka Jadi Tolok Ukur Transparansi Birokrasi
Pelaksanaan Seleksi Terbuka Deputi Olahraga menjadi indikator apakah sistem merit benar-benar diterapkan secara konsisten di lingkungan birokrasi pusat.
Selama ini, pengisian jabatan tinggi kerap dipersepsikan publik sebagai proses internal yang tertutup dan minim pengawasan.
Melalui mekanisme terbuka, Kemenpora berupaya membangun kepercayaan publik terhadap tata kelola pemerintahan yang profesional.
Prinsip transparansi birokrasi menjadi sorotan karena jabatan Deputi ini memiliki kewenangan strategis dalam mengembangkan industri olahraga nasional.
Kemenpora Buka Kompetisi ASN dan Profesional
Kemenpora menyatakan seleksi ini terbuka bagi ASN maupun profesional yang memiliki pengalaman di industri olahraga, industri kreatif, serta wisata olahraga.
Langkah Kemenpora tersebut memperluas basis talenta dan membuka peluang hadirnya perspektif baru dalam birokrasi olahraga.
Keterlibatan profesional diharapkan mampu membawa pendekatan inovatif dalam perumusan kebijakan.
Kemenpora menegaskan bahwa proses seleksi dilakukan secara kompetitif dan berlandaskan kompetensi.
JPT Madya dengan Dampak Kebijakan Strategis
Posisi Deputi Bidang Pengembangan Industri Olahraga merupakan bagian dari struktur JPT Madya yang memiliki peran lintas sektor.
Pejabat JPT Madya bertanggung jawab menyusun dan mengimplementasikan kebijakan yang berdampak langsung pada ekosistem industri olahraga.
Keputusan pada level JPT Madya juga berkaitan dengan iklim investasi, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu, transparansi dalam seleksi JPT Madya menjadi kepentingan publik yang tidak bisa diabaikan.
Harapan Menpora terhadap Hasil Seleksi
Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir berharap figur terpilih mampu menjawab tantangan pengembangan industri olahraga nasional.
“Kemenpora terus mendorong pengembangan industri olahraga dan wisata olahraga karena potensinya luar biasa untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi nasional, menciptakan lapangan kerja dan menyuburkan iklim investasi,” ujar Erick Thohir.
Dia menekankan pentingnya kepemimpinan yang inovatif dan kolaboratif dalam posisi Deputi tersebut.
“Sehingga untuk posisi Deputi bidang pengembangan industri olahraga, kami juga menjaring kalangan profesional untuk bersaing dengan ASN untuk mendapatkan sosok pemimpin yang benar-benar bisa melahirkan inovasi, berkolaborasi lintas sektor dan memanfaatkan kekuatan olahraga kita sebagai daya tarik industri olahraga dan wisata olahraga yang memperkuat citra Indonesia di tingkat internasional,” katanya.
Ujian Konsistensi Sistem Merit
Pelaksanaan Seleksi Terbuka Deputi Olahraga akan menjadi tolok ukur konsistensi penerapan sistem merit di Kemenpora.
Publik akan mencermati apakah seluruh tahapan seleksi benar-benar bebas dari intervensi dan konflik kepentingan.
Transparansi birokrasi tidak hanya diukur dari keterbukaan pendaftaran, tetapi juga dari akuntabilitas penilaian.
Jika berhasil, seleksi ini berpotensi menjadi model pengisian JPT Madya di kementerian lain.
Pendaftaran Seleksi Terbuka Deputi Olahraga dijadwalkan berlangsung pada 3 hingga 17 Februari 2026 melalui situs resmi Kemenpora.
Kemenpora memastikan seluruh informasi persyaratan dan tahapan seleksi dapat diakses publik secara terbuka. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama