RADARTUBAN - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, tegaskan bahwa kementeriannya saat ini menyusun strategi besar untuk mengakhiri ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama untuk BBM non-subsidi seperti varian RON 92, 95, hingga 98.
Dalam agenda Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR pada Kamis (22/1), Bahlil menjelaskan bahwa proses perancangan kebijakan tersebut sudah mulai berjalan sepanjang tahun 2026.
Pemerintah tetapkan target kebijakan agar aktivitas impor jenis bensin tersebut dapat berhenti sepenuhnya diimplementasikan pada tahun 2027 mendatang.
Tujuan dari kebijakan tersebut ialah untuk mengurangi ketergantungan pada impor produk jadi, sehingga pemerintah lebih memprioritaskan impor minyak mentah (crude oil) kedepan nantinya, dan kemudian diolah di dalam negeri.
Sampai saat ini, Bahlil belum menyampaikan rincian teknis mengenai mekanisme penghentian impor bensin tersebut.
Namun, merujuk pada informasi sebelumnya, keberadaan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan diproyeksikan menjadi kunci utama dalam menekan angka impor BBM nasional.
Selain itu, pemerintah juga telah mengonfirmasi bahwa mereka sedang menyusun peta jalan terkait pemanfaatan etanol sebagai campuran BBM dengan kadar sebesar 10%.
Bahlil juga memaparkan bahwa upaya pemerintah dalam menekan impor tidak hanya menyasar bensin, tetapi juga mencakup bahan bakar pesawat terbang atau avtur.
Kementerian ESDM bersama dengan pihak Pertamina saat ini melakukan upaya keras untuk mengonversi kelebihan stok solar yang mencapai 1,4 juta kiloliter menjadi bahan baku produksi avtur.
Sasaran akhir dari program ini adalah untuk memastikan bahwa pada tahun 2027, Indonesia benar-benar berhenti melakukan impor untuk produk avtur, solar C51, dan bensin yang kadar oktannya diangka RON 92, 95, dan 98.
Dengan kebijakan tersebut, sisa impor yang masih akan dilakukan pemerintah nantinya hanya difokuskan pada jenis bensin RON 90 yang diperuntukkan bagi kebutuhan BBM bersubsidi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni