RADARTUBAN – Kapal tanker MT Abigail W yang terdampar di pesisir Pantai Panduri, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu belum juga berhasil dievakuasi.
Hingga hari kelima pascadiketahui terdampar pada Rabu (21/1) sore, posisi kapal milik PT Pertamina Trans Kontinental itu nyaris tidak bergeser hingga kemarin (26/1).
Lagi-lagi, cuaca buruk menjadi faktor penghambat utama.
Gelombang tinggi dan angin kencang menghalangi petugas melakukan upaya penarikan kapal tanker yang sebelumnya berlayar dari Pelabuhan Merak itu.
Cuaca yang tak bersahabat tersebut memaksa proses evakuasi belum maksimal.
Kepala Seksi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Kelas III Tanjung Pakis, C.
Metropolitan Jaya menyampaikan, penarikan kapal tanker hingga hari kelima belum membuahkan hasil.
Dia menerangkan, setidaknya dua kapal dikerahkan untuk membantu proses penarikan kapal MT Abigail W, yakni TB Mitra Anugrah 23 dan TB Transco Dara.
Proses evakuasi tersebut berlangsung sejak pukul 06.00 hingga 15.00.
Namun, jumlah armada tersebut belum sebanding dengan kompleksitas medan dan bobot kapal tanker.
‘’Beberapa kali percobaan dilakukan, tapi kondisi cuaca belum mendukung,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Tuban.
Menurutnya, keselamatan tim penyelamat kapal juga menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah. Begitu juga cuaca perairan.
‘’Kalau gelombang tinggi, kami tidak bisa memaksakan. Terlalu berisiko,’’ katanya.
Metro memastikan belum bergesernya tanker MT Abigail W dari pesisir tidak akan mencemari lingkungan atau merusak biota laut setempat.
Itu karena kapal tersebut tidak mengangkut muatan apa pun.
‘’Faktor ini membuat proses evakuasi lebih terukur, sebab tidak berkejaran dengan waktu. Kendati demikian kami akan melakukannya (evakuasi, Red) secepat mungkin,’’ ujar dia.
Hingga kini, belum ada target waktu kapan evakuasi akan tuntas. Pihak KSOP menyatakan akan terus memantau kondisi cuaca sebelum kembali melakukan percobaan penarikan.
Fokus evakuasi lima hari terakhir adalah membuat badan kapal dapat terapung dahulu.
‘’Tidak ada estimasi jangka waktu. Intinya kita tetap berusaha agar kondisi kapal bisa terapung, sehingga proses evakuasi selanjutnya lebih mudah melakukan penarikan badan kapal. Proses cepat lambatnya evakuasi juga berpengaruh pada cuaca di perairan,’’ imbuhnya.(an/ds)
Editor : Yudha Satria Aditama