RADARTUBAN – Salma, guru honorer berusia 25 tahun yang mengajar di SMP dan SMA di Duren Sawit, Jakarta Timur, mengaku kesulitan bertahan hanya dengan gaji Rp 1,5 juta per bulan dari dua sekolah.
Pendapatan tersebut jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2026 yang mencapai Rp 5,729 juta, sehingga ia terpaksa mencari pekerjaan sampingan demi mencukupi kebutuhan hidup.
Gaji Jauh di Bawah UMP Jakarta
Salma mengajar mata pelajaran Sejarah di SMA dan IPS di SMP, keduanya berada di bawah naungan satu yayasan.
Menurutnya, cukup atau tidaknya penghasilan memang bergantung pada kebutuhan masing-masing individu.
Namun, dalam realitas yang ia jalani, gaji tersebut tidak mencukupi kebutuhan pokok bulanan seperti makan, transportasi, dan biaya pribadi lainnya.
Ambil Privat dan Bimbel Demi Bertahan Hidup
Untuk menutupi kekurangan, Salma akhirnya mengambil pekerjaan tambahan sebagai guru privat dan pengajar bimbingan belajar di dua tempat berbeda.
Langkah ini terpaksa ia ambil agar tetap bisa bertahan secara ekonomi, meskipun jam kerja menjadi lebih panjang dan waktu istirahat semakin terbatas.
Mengabdi Sejak 2023, Nasib Tak Banyak Berubah
Salma mulai mengajar sejak mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada tahun 2023 di sekolah yang sama. Meski telah mengabdi selama beberapa tahun, kondisi finansialnya tidak mengalami peningkatan signifikan.
Situasi ini semakin terasa berat ketika UMP Jakarta terus mengalami kenaikan, termasuk kenaikan sekitar 6 persen pada tahun ini.
Potret Buram Guru Honorer di Berbagai Daerah
Kasus Salma mencerminkan nasib banyak guru honorer di Indonesia. Di Bandung, misalnya, seorang guru bertahan hidup dengan gaji di bawah Rp 1 juta sambil menanggung beban keluarga.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, bahkan menegaskan bahwa gaji guru honorer seharusnya berada di kisaran Rp 5 juta per bulan, bukan hanya Rp 250 ribu seperti yang terjadi di beberapa daerah.
Pemerintah Diminta Serius Perhatikan Kesejahteraan Guru
Kondisi ini mendorong banyak guru honorer beralih ke pekerjaan tambahan seperti mengajar privat, membuat konten edukasi daring, hingga membuka usaha kecil demi mendapatkan penghasilan layak.
Pemerintah pun didesak untuk lebih serius memperhatikan kesejahteraan pendidik honorer, mengingat peran mereka sangat vital dalam mencetak generasi penerus bangsa dan menjaga kualitas pendidikan nasional. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni